JAKARTA, Kalimantanlive.com — Investigasi bersama The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call mengungkap dugaan bahwa Unit 8200, divisi intelijen siber elit militer Israel, menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina dalam jumlah besar di server cloud Microsoft Azure. Operasi yang dilaporkan berjalan sejak 2022 ini memanfaatkan pusat data di Belanda dan Irlandia.
Berdasarkan dokumen internal Microsoft yang bocor dan kesaksian 11 narasumber—termasuk orang dalam militer Israel dan pegawai Microsoft—jutaan panggilan harian dari Gaza dan Tepi Barat direkam.
BACA JUGA: Microsoft Rilis Copilot Mode di Edge, Jelajah Web Kini Lebih Cerdas dengan AI
Beberapa sumber menyebut data tersebut digunakan untuk pemantauan, panduan serangan udara, hingga operasi militer di wilayah pendudukan.
Microsoft menyatakan CEO Satya Nadella tidak mengetahui detail jenis data yang diunggah dan menegaskan peninjauan internal tidak menemukan bukti bahwa Azure atau AI mereka digunakan untuk melukai individu.
Namun, dokumen internal mengindikasikan adanya kerja sama teknis, termasuk fitur keamanan untuk memungkinkan transfer sekitar 70% data sensitif Unit 8200 ke Azure.
Sejumlah mantan anggota Unit 8200 menilai metode ini merupakan penyadapan massal yang kerap dijadikan dasar penangkapan, penahanan, hingga pembunuhan warga Palestina.










