Kalimantanlive.com – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC September 2025.
Menurut Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, rilis terbaru Indeks Harga Konsumen (IHK) AS menunjukkan inflasi tahunan per Juli 2025 sebesar 2,7 persen, sedikit di bawah perkiraan 2,8 persen, sementara inflasi bulanan tercatat 0,2 persen, sesuai ekspektasi.
“Inflasi yang lebih ringan ini, ditambah dengan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja AS, mendorong ekspektasi kuat terhadap penurunan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.
BACA JUGA: BSI Dorong Pembentukan Asosiasi Pasar Emas Indonesia untuk Perkuat Industri Bullion
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September kini diperkirakan mencapai lebih dari 95 persen.
Menanggapi data inflasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kebijakan tarif pemerintah AS tidak menyebabkan lonjakan inflasi, dan justru memberikan manfaat fiskal, seperti meningkatnya pemasukan ke Departemen Keuangan AS. Ia juga menekankan bahwa beban tarif lebih banyak ditanggung oleh perusahaan dan pemerintah, bukan oleh konsumen.







