KALIMANTANLIVE.COM – Dunia digital kembali berguncang! TikTok resmi memecat 150 karyawan tim moderasi konten di Berlin dan menggantikan peran mereka dengan sistem kecerdasan buatan (AI) serta tenaga outsourcing. Langkah ini memicu protes keras dari serikat pekerja dan kritik tajam dari pakar kebijakan digital.
# Baca Juga :Rupiah Sempat Perkasa Lawan Dolar, Tapi Waspada: Ancaman PHK & Utang!
# Baca Juga :Terpuruk Parah! Nissan Bakal PHK 20.000 Karyawan di Seluruh Dunia, Ini Alasannya
# Baca Juga :PHK Meningkat, Generasi Muda Didorong Garap Peluang di Luar Kantor
# Baca Juga :EKONOMI AS AMBRUK! Efek Tarif Trump Bikin Pabrik Mandek, PHK Massal Ancam Negeri Adidaya
40 Persen Karyawan Trust & Safety TikTok Berlin Dipecat
PHK ini menyasar divisi Trust and Safety TikTok Berlin, yang sebelumnya berjumlah 400 orang. Artinya, 40% tenaga kerja di kantor tersebut dipangkas demi “efisiensi” dan “alur kerja yang lebih lancar”, menurut juru bicara TikTok, Anna Sopel.
AI Gantikan Manusia, Tapi Banyak Salah Deteksi
Meski TikTok berdalih bahwa AI bisa bekerja lebih cepat dan mengurangi beban mental moderator manusia, pakar kebijakan Aliya Bhatia menyebut sistem AI belum mampu menyaring konten secara akurat. Bahkan, AI TikTok pernah menganggap bendera pelangi Pride sebagai konten berbahaya, sementara konten kekerasan justru lolos1.
Serikat Pekerja: “TikTok Menolak Bicara!”
Serikat pekerja ver.di yang mewakili karyawan TikTok Berlin telah mengajukan tuntutan pesangon dan perpanjangan masa pemberitahuan PHK. Namun, TikTok disebut menolak bernegosiasi. “Intinya, mereka bilang: ‘Kami tidak mau bicara dengan Anda,’” ujar Kalle Kunkel dari ver.di.









