Program ini terbukti mengurangi volume sampah di TPA, dari semula 400 ton per bulan menjadi sekitar 200 ton.
DLH Kalsel juga mendorong pengolahan lanjutan dengan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) bekerja sama dengan perusahaan mitra. Sampah residu yang tak bernilai akan dicacah dan diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batubara.
“Kami berharap masyarakat semakin sadar memilah sampah, sehingga lingkungan lebih bersih, sampah berkurang, dan sekaligus memberi nilai ekonomi,” pungkas Fathimatuzzahra.
Sumber: MC Kalsel







