Suara senada datang dari Kepala Perwakilan BI Kalsel Fadjar Majardi, yang menyebut bahwa Pamor Borneo adalah bentuk nyata sinergi.
“Pamor Borneo bukan sekadar event tahunan, melainkan sebuah ekosistem yang dapat berkontribusi nyata dalam memperluas akses pasar UMKM ke mancanegara, meningkatkan peluang investasi, mendorong pariwisata berkelanjutan, dan mengangkat citra budaya Kalimantan serta Indonesia di kancah internasional,” jelasnya.
BACA JUGA: Ketua DPRD Kalsel Dukung Penuh Pamor Borneo 2024 untuk Kemajuan Ekonomi Daerah
Untuk mendorong daya saing perdagangan sekaligus memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi UMKM, Pamor Borneo melaksanakan business matching dan showcasing UMKM unggulan Kalsel di Atrium Duta Mall Banjarmasin yang dirangkaikan dengan lomba, hingga workshop kreatif:
- Tourism & Craft (21 Agustus 2025): talkshow pariwisata, workshop sasirangan, ecoprint, dan purun;
- Fashion (22 Agustus 2025): beauty class, talkshow fashion, fashion show, dan permainan interaktif berhadiah bersama RURI Repvblik;
- FnB & Agro (23 Agustus 2025): demo masak, workshop kopi, lomba brewing, semifinal Mobile Legend, hingga dance competition;
- Ekraf & Digital (24 Agustus 2025): lomba mewarnai, final Mobile Legend, pengumuman pemenang lomba, sosialisasi Bank Indonesia, kompetisi menyanyi, dan fun closing ceremony.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pamor borneo, dorongan terhadap investasi yang bernilai tambah tinggi diwujudkan melalui Borneo Business and Investment Forum (BBIF) 2025, mengangkat tema “Beyond Black Earth: Transforming Kalimantan’s Richness through Advanced Sustainable Investment” dengan 2 (dua) kegiatan utama.
Pertama, diskusi panel dengan kesimpulan sebagai berikut: Transformasi ekonomi Kalimantan dapat ditempuh melalui upaya hilirisasi sumber daya alam di Kalimantan, khususnya mineral dan batu bara.
Berbagai tantangan perlu diatasi bersama, di antaranya keterbatasan infrastruktur, insentif, teknologi, serta kompleksitas perizinan dan koordinasi pusat-daerah.
Sinergi kebijakan pemerintah, peran kawasan industri, serta dukungan akademisi dan investor menjadi kunci dalam mengatasi bottleneck investasi dan mempercepat realisasi hilirisasi.







