KALIMANTANLIVE.COM – Publik bertanya-tanya, mengapa harga beras di pasar masih melambung tinggi padahal produksi dalam negeri sedang melimpah? Ternyata jawabannya mengejutkan!
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akhirnya buka suara. Ia menegaskan bahwa biang kerok utama mahalnya harga beras adalah distribusi yang belum berjalan optimal.
# Baca Juga :Kejagung Bongkar Harta Rampasan Skandal Jiwasraya: Dari Kapal Pinisi, Mobil Mewah, hingga Tambang Batubara
# Baca Juga :Amunisi Baru AS Roma, Leon Bailey, Langsung Cedera di Hari Pertama! Fans Giallorossi Was-Was
# Baca Juga :Wow! Mahasiswa Denmark Ciptakan Drone Canggih Bisa Terbang di Udara dan Menyelam di Air
# Baca Juga :GEGARA GEMPA! KCIC Batalkan 8 Perjalanan Kereta Cepat Whoosh Imbas Gempa Bekasi
“Kalau distribusi lancar, harga pasti normal. Kalau kemarin di ritel modern saja berkurang, berarti distribusinya yang harus dibenahi,” tegas Budi usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Distribusi Jadi Masalah Krusial
Budi mengakui bahwa jalur distribusi beras dari gudang hingga ke pasar masih belum maksimal. Inilah yang membuat harga tetap tinggi, meski stok di gudang sebenarnya mencukupi.
Namun, ia memastikan bahwa pemerintah kini tengah membenahi penyaluran beras agar tidak ada lagi kelangkaan.
Harga Beras Mulai Turun, tapi Belum Merata
Menurut Budi, harga beras kini mulai menunjukkan tren penurunan, terutama di pasar tradisional dan ritel modern.
“Sudah mulai turun, sebagian sudah turun. Sekarang di ritel modern juga sudah mulai banyak pasokannya,” ujarnya optimis.
SPHP Bulog Jadi Senjata Pemerintah
Budi juga mengungkapkan bahwa program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum Bulog terus digencarkan. Meski belum sepenuhnya terealisasi, distribusi beras SPHP diyakini akan menekan harga di pasaran.
“SPHP sudah berjalan walau belum 100%. Kami bersama Bapanas terus dorong percepatan distribusi sekaligus pengawasan di lapangan,” pungkasnya.









