JAKARTA, Kalimantanlive.com – Produsen otomotif asal China mulai mencari cara menghindari tarif tinggi yang diterapkan Uni Eropa (UE) terhadap impor mobil listrik (EV).
Salah satu strateginya adalah dengan mendirikan fasilitas produksi lokal di Eropa serta meningkatkan fokus pada penjualan mobil hybrid.
BACA JUGA: Perang Panas Mobil Hybrid Rp 300 Jutaan! Suzuki, Chery, atau Daihatsu, Siapa Paling Worth It?
Mobil hybrid dinilai lebih aman karena sebagian besar hanya terkena tarif dasar 10 persen, berbeda dengan mobil listrik murni yang dibebani tarif tambahan hingga puluhan persen.
Selain itu, popularitas hybrid di pasar Eropa juga terus meningkat, sehingga mendorong produsen China memperbanyak ekspor model ini.
Dataforce mencatat, BYD mendaftarkan 20.000 unit plug-in hybrid (PHEV) di UE sepanjang paruh pertama 2025, lebih dari tiga kali lipat dibanding total penjualan PHEV mereka di 2024.
MG dan Lynk & Co juga mencatat lonjakan signifikan dalam impor hybrid ke Eropa.
Sebagai perbandingan, tarif yang dikenakan pada BYD Atto 3 di Jerman mencapai total 27 persen, atau menambah harga sekitar 10.000 euro (Rp191,5 juta).










