JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kasus penculikan dan pembunuhan keji terhadap Kepala Cabang Pembantu (KCP) sebuah bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta (37), akhirnya mulai terkuak. Polisi mengungkap identitas salah satu otak intelektual di balik kasus ini, yakni Dwi Hartono (DH), seorang pengusaha bimbingan belajar yang dikenal luas di lingkungannya.
“Iya benar (DH adalah Dwi Hartono),” tegas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Selasa (26/8/2025).
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Penculik Kacab Bank BUMN di Jakarta Buka Suara, Motif Masih Misterius
# Baca Juga :Merebak Isu Percobaan Penculikan Anak di SDN Mabu’un, Berikut Klarifikasi Sopir Avanza Putih
# Baca Juga :TERUNGKAP! Penculik Kacab Bank BUMN Ngaku Dapat Perintah Buang Mayat, Dibayar di Bawah Rp50 Juta
# Baca Juga :TERNYATA! Penculik Kacab Bank BUMN Hanya Terima DP Rp50 Juta, Aktor Intelektual Masih Misterius
Meski sempat disebut sebagai motivator, polisi memastikan status DH hanyalah sebagai pengusaha bimbel.
8 Orang Ditangkap, Termasuk 4 Otak Intelektual
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bergerak cepat. Hingga kini, delapan orang berhasil ditangkap terkait kasus sadis ini.
Empat eksekutor lapangan: AT, RS, RAH, dan EW.
Tiga orang ditangkap di rumah berwarna merah jambu di Johar Baru, Jakarta Pusat (21/8/2025).
EW ditangkap di Bandara Komodo, NTT pada hari yang sama.
Empat otak intelektual: DH, YJ, AA, dan C.
DH, YJ, dan AA ditangkap di Solo, Jawa Tengah (23/8/2025).
C diringkus di kawasan elit Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara (24/8/2025).
Kronologi Sadis Penculikan & Pembunuhan
Korban Ilham Pradipta diculik saat berada di area parkir supermarket Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (20/8/2025).
Berdasarkan rekaman CCTV, korban mengenakan kemeja batik cokelat lengan pendek dan celana panjang krem. Saat hendak masuk ke mobilnya, sekelompok pria tiba-tiba menyergap dan memaksanya masuk ke mobil putih. Sempat melawan, korban akhirnya tak berdaya.
Keesokan harinya (21/8/2025), jasad Ilham ditemukan di persawahan Kampung Karangsambung, Desa Nagasari, Serang Baru, Kabupaten Bekasi. Kondisinya mengenaskan: tangan dan kaki terikat, mata dilakban, serta tubuh penuh luka lebam.







