JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tangis dan kekecewaan menyelimuti ribuan calon jemaah haji Indonesia. Sebanyak 8.400 orang yang sudah menanti lebih dari 14 tahun batal berangkat ke Tanah Suci pada 2024. Penyebabnya sungguh mengejutkan: dugaan korupsi kuota haji senilai Rp1 triliun di Kementerian Agama.
Fakta Mengejutkan dari KPK
Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan praktik curang itu terjadi pada masa jabatan eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
# Baca Juga :Kasus Korupsi Kerja Sama Bokar di Perumda Tabalong, Kejari Serahkan 2 Tersangka ke Penuntut Umum
# Baca Juga :Skandal Tambang Bengkulu: Bos Korupsi Rp 500 Miliar, Dua Kerabat Diciduk Usai Selamatkan Rp 71 Miliar
# Baca Juga :Skandal Menggemparkan Singapura! Miliuner Ong Beng Seng Akui Suap Menteri, F1 Jadi Sandi Korupsi
# Baca Juga :DRAMATIS! Moge Disita dari Rumah Ridwan Kamil, KPK Yakin Terkait Kasus Korupsi Bank BJB
“Ada 8.400 jemaah yang sudah antre lebih dari 14 tahun gagal berangkat akibat praktik tindak pidana korupsi ini. Ini jelas ironi dan tidak boleh terulang,” tegas Asep di Gedung Merah Putih KPK, Senin (25/8/2025).
Menurut aturan, 20.000 kuota tambahan haji 2024 dari Arab Saudi seharusnya dibagi 92% (18.400) untuk haji reguler dan 8% (1.600) untuk haji khusus.
Namun, kenyataannya, kuota justru dipotong jadi 50% reguler dan 50% khusus, alias 10.000 untuk reguler, 10.000 untuk haji khusus.
“Pembagian seperti ini jelas melanggar Pasal 64 Ayat 2 UU No.8 Tahun 2019. Seharusnya 92 persen – 8 persen, bukan 50:50,” jelas Asep.
Kerugian Capai Rp1 Triliun
KPK menaksir kerugian negara akibat manipulasi kuota haji ini mencapai Rp1 triliun.
Untuk kepentingan penyidikan, KPK telah mencegah tiga orang bepergian ke luar negeri:
Yaqut Cholil Qoumas (eks Menteri Agama)
Ishfah Abidal Aziz (eks staf khusus Menag)
Fuad Hasan Masyhur (pengusaha biro perjalanan haji & umrah)
Dampak Tragis bagi Calon Jemaah
Bagi ribuan calon jemaah haji, kasus ini sungguh menghancurkan harapan. Mereka yang sudah mendaftar sejak 2010 harus kembali menunggu dengan penuh ketidakpastian.
Bayangkan, setelah menabung belasan tahun, berdoa tanpa henti, dan menanti giliran, ribuan calon jemaah justru dikorbankan oleh keserakahan segelintir orang.







