KALIMANTANLIVE.COM – Malam itu, Minggu (24/8/2025), pukul 02.15 WIB. Jalan Handayani, Sendangrejo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, tampak lengang. Di balik sunyi, puluhan aparat kepolisian mengendap di sekitar sebuah rumah kontrakan sederhana. Target mereka: seorang pria berinisial RS, otak di balik tim pengintai dalam kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu (KCP) salah satu bank BUMN di Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37).
Ketika petugas mendobrak masuk, RS sempat berusaha melarikan diri. Namun, upaya itu kandas. Ia berhasil ditangkap hanya beberapa meter dari tempat persembunyiannya. Malam yang mencekam itu menjadi akhir dari pelarian RS.
# Baca Juga :VIRAL! Dwi Hartono Otak Penculikan Kacab Bank Ternyata Mahasiswa S2 UGM, Begini Sikap Kampus
# Baca Juga :TERNYATA! Penculik Kacab Bank BUMN Hanya Terima DP Rp50 Juta, Aktor Intelektual Masih Misterius
# Baca Juga :TERUNGKAP! Penculik Kacab Bank BUMN Ngaku Dapat Perintah Buang Mayat, Dibayar di Bawah Rp50 Juta
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Penculik Kacab Bank BUMN di Jakarta Buka Suara, Motif Masih Misterius
Peran Rahasia RS
Hasil penyidikan mengungkap peran vital RS dalam operasi kriminal ini. Ia bukan eksekutor yang menculik korban secara langsung, melainkan otak di balik layar yang menyediakan tim pengintai dan dukungan IT.
Tim inilah yang membuntuti setiap langkah Ilham: dari rumah, kantor, hingga aktivitas sehari-hari. Semua pergerakan korban dipantau dengan detail sebelum akhirnya diculik.
“RS adalah penyedia tim pantau. Ia yang memastikan korban tidak pernah lepas dari radar mereka,” ungkap Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Struktur Kriminal yang Rapi
Kasus ini ibarat potongan puzzle. Polisi mengungkap 15 tersangka yang terbagi dalam klaster-klaster peran:
Aktor intelektual (otak perencana): C, DH, YJ, AA
Tim pengintai & IT: RS (baru ditangkap)
Tim penculik: AT, RS, RAH, RW
Eksekutor penganiayaan & pembuangan korban: masih dalam pendalaman
Skema itu menunjukkan betapa rapi dan terorganisirnya aksi penculikan ini. Bukan sekadar tindak kriminal jalanan, melainkan operasi sistematis dengan pembagian tugas yang jelas.
Tragedi Ilham Pradipta
Bagi keluarga dan rekan kerja, Ilham hanyalah seorang bankir muda dengan karier menjanjikan. Namun di balik rutinitasnya, ia ternyata menjadi target operasi kelompok kriminal ini.
Penculikan yang dialaminya berakhir dengan kematian tragis. Tubuhnya ditemukan setelah mengalami penganiayaan, dibuang layaknya tak bernilai. Sebuah tragedi yang menyisakan luka mendalam bagi dunia perbankan dan publik tanah air.







