Terbongkar! Jejak Hitam Dwi Hartono, Dalang Penculikan Kacab Bank yang Ternyata Pernah Jadi Mafia Pemalsu Ijazah

KALIMANTANLIVE.COM – Penangkapan Dwi Hartono, otak intelektual di balik penculikan dan pembunuhan tragis terhadap Mohamad Ilham Pradipta, Kepala Cabang (Kacab) sebuah bank di Jakarta, membuka kembali rekam jejak kelamnya di dunia kriminal.

Ilham ditemukan tewas di Serang Baru, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (21/8/2025), dengan kondisi mata, tangan, dan kaki terikat lakban hitam. Polisi pun telah menangkap 15 tersangka dalam kasus ini. Mereka dibagi menjadi beberapa klaster: pengintai, penculik, eksekutor, hingga dalang. Nama Dwi Hartono bersama C alias Ken disebut sebagai dalang utama.

# Baca Juga :Drama Penculikan Kacab Bank BUMN: Jejak Tim Pengintai Terbongkar, RS Dibekuk Polisi di Semarang Tengah Malam

# Baca Juga :VIRAL! Dwi Hartono Otak Penculikan Kacab Bank Ternyata Mahasiswa S2 UGM, Begini Sikap Kampus

# Baca Juga :TERNYATA! Penculik Kacab Bank BUMN Hanya Terima DP Rp50 Juta, Aktor Intelektual Masih Misterius

# Baca Juga :TERUNGKAP! Penculik Kacab Bank BUMN Ngaku Dapat Perintah Buang Mayat, Dibayar di Bawah Rp50 Juta

Hingga kini, polisi masih mendalami motif di balik aksi sadis tersebut.

“Saat ini masih dilakukan pendalaman,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, Rabu (27/8/2025).

Namun, di balik wajahnya sebagai pengusaha bimbel online, Dwi ternyata menyimpan jejak kriminal lama yang mengejutkan: pemalsuan ijazah.

Kasus Lama yang Terkuak: Pemalsuan Ijazah Rp 500 Juta

Menurut catatan Polrestabes Semarang, Dwi pernah ditangkap pada tahun 2012 karena memalsukan ijazah SMA paket C untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Kala itu, ia menggunakan nama alias Feri. Dengan bimbingan belajar bernama Smart Solution, Dwi memanipulasi nilai calon mahasiswa, bahkan mengubah ijazah IPS menjadi IPA. Tarif jasanya mencapai Rp 100–500 juta per orang.

“Benar, di tahun 2012 dia terkait kasus pemalsuan ijazah SMA paket C,” ungkap AKBP Andika Darma Sena, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang.

Dwi juga diduga menggunakan joki ujian dengan peralatan canggih berupa jam tangan berfitur SMS dan telepon untuk memberikan jawaban ke peserta tes masuk kampus.

Kasus ini terbongkar lewat surat kaleng yang diterima Kapolrestabes Semarang saat itu, Kombes Elan Subilan, pada Mei 2012. Dari penyelidikan, polisi menyita mobil, stempel universitas, stempel SMA, hingga proposal rincian harga jasa pemalsuan ijazah.

Unissula: Dwi Adalah Makelar Mahasiswa Baru

Pihak kampus Unissula pun angkat bicara. Wakil Rektor I Unissula, Andre Sugiono, menegaskan bahwa Dwi hanyalah makelar penerimaan mahasiswa baru yang memalsukan ijazah calon mahasiswa, bukan pihak resmi kampus.

“Dia itu makelar penerimaan mahasiswa baru. Ijazah SMA IPS dipalsukan jadi IPA atau paket C, supaya bisa masuk FK Unissula,” jelas Andre.

Andre menambahkan, kasus itu sudah diproses hukum dan mahasiswa yang terlibat tidak diterima masuk ke kampus.