KALIMANTANLIVE.COM – Nama ‘Profesor R’ mendadak jadi sorotan publik setelah polisi menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus ricuh akhir Agustus 2025 di Jakarta. Julukan itu bukan tanpa alasan: ia disebut-sebut sebagai otak intelektual yang mengatur strategi, logistik, hingga menyebarkan tutorial bom molotov lewat ribuan grup WhatsApp.
Tapi, siapa sebenarnya sosok misterius yang dijuluki ‘Profesor R’?
# Baca Juga :Resmi! Biaya Pasang Listrik Baru PLN September 2025: Lengkap dari 450 VA hingga 3.500 VA
# Baca Juga :Rumah Uya Kuya Dijarah, Belasan Orang Ditangkap & Polisi Buru Provokator Utama
# Baca Juga :Harga Emas Antam Melejit! 3 September 2025 Naik Rp 26.000 per Gram, Pecah Rekor di Atas Rp 2 Juta
Julukan Profesor, Tapi Bukan Akademisi
RAP, pria yang belakangan dikenal dengan nama sandi ‘Profesor R’, bukanlah dosen kampus bergengsi seperti bayangan banyak orang. Julukan “Profesor” muncul karena gaya komunikasinya yang sistematis, seperti mengajar, ketika memberikan arahan di grup WhatsApp.
“Dia menyusun tutorial dengan detail, seolah sedang memberi kuliah. Mulai dari bahan, komposisi, hingga cara melempar molotov agar efektif,” ungkap seorang penyidik yang enggan disebut namanya.
Jejak Digital Sang Koordinator
Polisi berhasil membongkar jejak digital RAP melalui analisis forensik. Dari situ, terungkap perannya bukan sekadar penyebar informasi, melainkan koordinator logistik yang menempatkan molotov di titik-titik tertentu.
RAP disebut lihai memanfaatkan teknologi, memecah komunikasi lewat puluhan grup WA, dan mengelola percakapan agar tidak mudah terendus.
“Dia bukan orang sembarangan. Bisa dibilang, punya kecerdasan taktis dan organisatoris di atas rata-rata,” tambah Kompol Gilang Prasetya, Kanit 2 Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Ideologi atau Kepentingan Pribadi?
Hingga kini, motif RAP masih simpang siur. Apakah murni ideologis, atau sekadar provokasi untuk kepentingan tertentu? Polisi masih mendalami arah gerakan ini, terutama karena RAP tidak berdiri sendiri.
Ada dugaan kuat, ia terhubung dengan jaringan lebih besar. Grup WhatsApp yang ia kendalikan hanyalah “pintu masuk” untuk menggerakkan massa, termasuk anak-anak yang dimanfaatkan sebagai tameng.
Ironi: Profesor Anarkis
Julukan “Profesor” biasanya lekat dengan intelektualitas, riset, dan ilmu pengetahuan. Tapi RAP justru membalik makna itu: menjadi ‘Profesor Anarkis’ yang mengajarkan cara menghancurkan, bukan membangun.
Bagi aparat, kehadirannya adalah ancaman serius. Karena meski ditangkap, jejak dan pengaruhnya masih tersisa di ribuan grup WA lain yang kini tengah diburu polisi.










