KALIMANTANLIVE.COM – Indonesia memasuki babak baru kebijakan ekonomi! Presiden Prabowo Subianto resmi mengganti Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan, digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Pergantian ini bukan sekadar reshuffle biasa, melainkan sinyal perubahan arah ekonomi nasional yang lebih tegas.
Menurut Ekonom INDEF sekaligus Dosen FEB Universitas Paramadina, Ariyo Irhamna, perbedaan mendasar antara Sri Mulyani dan Prabowo sudah terlihat sejak awal.
# Baca Juga :HEBOH HOLLYWOOD! Mayat Membusuk Ditemukan di Bagasi Tesla Milik Penyanyi D4vd
# Baca Juga :BYD Guncang Pasar! SUV Off Road Hybrid Tai 7 Meluncur, Harga Mulai Rp 400 Jutaan
# Baca Juga :IHSG Pagi Ini Melonjak ke 7.684 Usai Diguncang Reshuffle Prabowo
# Baca Juga :Drama King’s Cup! Mohanad Ali Tendang Kapten Thailand, Irak Bisa Apes Lawan Indonesia?
Sri Mulyani: menganut prinsip pasar bebas, dengan peran pemerintah yang terbatas dalam roda ekonomi.
Prabowo: justru menekankan peran negara yang kuat, menggunakan instrumen fiskal, pembiayaan strategis, hingga penguatan BUMN sebagai motor pembangunan nasional.
“Pergantian ini konsisten dengan visi Prabowo yang ingin membangun ekonomi lebih inklusif, berdaulat, dan menempatkan pemerintah sebagai aktor utama,” ungkap Ariyo, Selasa (9/9/2025).
Rekomendasi Kebijakan
Ariyo menilai, Menkeu baru harus segera meluncurkan kebijakan fiskal pro-rakyat untuk menjaga daya beli. Dua langkah yang ia soroti antara lain:
Menaikkan PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) menjadi Rp75–80 juta per tahun, agar masyarakat kelas menengah bawah punya ruang konsumsi lebih luas.
Menurunkan tarif PPN menjadi 10%, dengan skema 1% ditanggung pemerintah (PPN DTP), sehingga konsumsi rumah tangga tetap terjaga tanpa memangkas penerimaan negara secara drastis.
Pasar sempat bereaksi negatif dengan IHSG turun saat kabar reshuffle mencuat. Namun menurut Ariyo, hal itu hanya respons psikologis sementara. “Turunnya IHSG bukan indikator fundamental negatif. Pasar hanya butuh waktu membaca arah kebijakan baru,” jelasnya.









