JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Presiden Prabowo Subianto akhirnya disebut setuju membentuk tim independen untuk mengusut tuntas tragedi demonstrasi Agustus 2025 yang memakan korban jiwa, melukai banyak orang, serta merusak fasilitas umum.
Kabar ini diungkapkan langsung oleh mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai menghadiri pertemuan dengan Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (11/9/2025) malam.
# Baca Juga :BREAKING! Hujan, Petir, dan Berawan Siang-Malam Mengguncang Kalimantan Selatan & Tengah Jumat Ini!
# Baca Juga :Samsung Galaxy F17 5G Resmi Meluncur! HP Paling Tipis di Kelasnya, Android Aman 6 Tahun
# Baca Juga :WADUH! Polisi Panggil Sherina Munaf Soal Kucing Uya Kuya, Ada Apa?
# Baca Juga :Ariel Tatum Pamer Skill Masak! Tetap Anggun Saat Sajikan Steak & Pasta Truffle untuk Sahabat
Aspirasi dari Gerakan Nurani Bangsa
Lukman hadir bersama tokoh lintas agama dan intelektual yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB), di antaranya:
Sinta Nuriyah (istri Presiden ke-4 Gus Dur)
Gomar Gultom (mantan Ketum PGI)
Quraish Shihab
Frans Magnis Suseno
Omi Komaria Nurcholish Madjid
Komaruddin Hidayat
Laode Syarif
Pertemuan yang berlangsung selama tiga jam itu membahas berbagai tuntutan masyarakat sipil, termasuk desakan pembentukan komisi independen investigasi tragedi Agustus.
“Salah satu tuntutan masyarakat sipil adalah perlunya dibentuk komisi investigasi independen. Presiden menyetujui pembentukan itu,” ujar Lukman.
Latar Belakang Demo Agustus 2025
Kerusuhan yang terjadi pada 25–31 Agustus 2025 meninggalkan jejak kelam: korban jiwa, luka-luka, tindak kekerasan, hingga pengrusakan fasilitas umum.
GNB menyerahkan sepenuhnya mekanisme pembentukan tim independen kepada Istana, sembari berharap investigasi berjalan transparan dan kredibel.
Amnesty International Desak Usut Dalang Kerusuhan
Sebelumnya, Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, juga mendesak Polri untuk lebih serius mencari dalang penyusup di balik kerusuhan.
Menurutnya, aparat seharusnya menampilkan ke publik pelaku nyata yang membakar, merusak fasilitas umum, hingga menjarah rumah pejabat.







