UPDATE RUSUH NEPAL! Bandara Tribhuvan Kembali Dibuka, Shuttle Bus Siap Antar Turis ke Hotel & Pusat Kota

KALIMANTANLIVE.COM – Setelah sempat lumpuh akibat gelombang protes besar-besaran, Bandara Internasional Tribhuvan (TIA), Nepal, akhirnya kembali dibuka. Badan Pariwisata Nepal (Nepal Tourism Board) langsung mengumumkan adanya layanan shuttle bus gratis menuju hotel dan pusat kota Kathmandu untuk memudahkan wisatawan internasional.

Dilansir dari The Himalayan Times, layanan bus antar-jemput ini berjalan berkat koordinasi sektor swasta, pihak militer, otoritas bandara, hingga departemen imigrasi. Turis kini bisa langsung menuju berbagai hotel utama dan kawasan populer di Kathmandu.

# Baca Juga :Bupati Balangan Luncurkan Dharmayatra untuk Tokoh Agama Budha ke Nepal dan India

# Baca Juga :Nepal Membara! Demo Gen Z Pecah Jadi Tragedi Berdarah, Menteri Dihajar, Gedung Pemerintah Dibakar!

# Baca Juga :KEMELUT NEPAL MEMANAS! 100 WNI Dipastikan Aman, Kemenlu Siaga Penuh Hadapi Kerusuhan Berdarah

# Baca Juga :Gedung Pemerintah Dibakar, Pemuda Nepal Desak Militer Terapkan Jam Malam

Rute Shuttle Bus dari Bandara Nepal

Ada tiga jalur utama yang bisa digunakan wisatawan:

Bandara – NAC – Newroad – Durbarmarg – Hotel Yak & Yeti – Thamel Chowk – Lainchour Chowk – Hotel Shanker – Ambassador – Bandara

Bandara – Gausala – Shifal – Bhagawatibahal – Hilton – Hotel Marriot – Durbarmarg – Hotel Radisson – Hotel Shangrila – Narayan Gopal Chowk – Maharajganj Gopal Chowk – Hyatt Regency – Chabahil Chowk – Hotel Dwarika’s – Bandara

Bandara – Tinkune Chowk – Hotel Everest – Maitighar Chowk – Hotel Himalaya – St. Xavier’s School – Hotel Soaltee – Hotel Grand – Bandara

Pihak Badan Pariwisata Nepal meminta penumpang untuk langsung menghubungi sopir bus yang telah ditunjuk sesuai rute perjalanan.

Bandara Sempat Ditutup Karena “Revolusi Gen Z”

Sebelumnya, Bandara Internasional Tribhuvan ditutup total sejak Selasa (9/9/2025) akibat kerusuhan demonstrasi yang dikenal dengan sebutan “Revolusi Gen Z.”

Aksi protes besar-besaran itu dipicu oleh:

Pembatasan penggunaan media sosial oleh pemerintah

Korupsi yang mengakar

Kondisi ekonomi memburuk

Gaya hidup mewah pejabat