KALIMANTANLIVE.COM – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia menghadapi fakta mengejutkan: jumlah anak obesitas kini melampaui jumlah anak kurang gizi. Temuan ini diungkap dalam laporan terbaru PBB dan menjadi alarm keras bagi kesehatan global.
Menurut data UNICEF, sejak awal 2000-an angka anak usia sekolah dan remaja yang kekurangan berat badan menurun dari 13% menjadi 9,2%. Namun, di sisi lain, prevalensi obesitas justru melonjak tajam dari 3% menjadi 9,4%.
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Jadwal Lengkap Konser Super Junior “Super Show 10” di Jakarta Hari Ini — ELF Siap Nostalgia 20 Tahun!
# Baca Juga :WOW! Pendaftaran SMA Taruna Nusantara 2026 Resmi Dibuka: Gratis Biaya Sekolah, Ada di Malang, Cimahi, hingga IKN!
# Baca Juga :Rp 33,7 Triliun Cair, 1,4 Juta Guru Sudah Terima Tunjangan Profesi 2025, Begini Cara Ceknya
# Baca Juga :Vivo X300 Series Meluncur 13 Oktober 2025, Usung Chip Dimensity 9500
Artinya, pada tahun 2025 ini, diperkirakan ada 188 juta anak berusia 5–19 tahun yang mengalami obesitas—lebih banyak dibanding anak yang kekurangan berat badan yang jumlahnya sekitar 184 juta.
“Ketika berbicara soal malnutrisi, kita tidak lagi hanya membicarakan anak-anak yang kekurangan berat badan. Obesitas adalah masalah nyata yang terus meningkat,” ujar Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF.
Obesitas: Ancaman Baru bagi Generasi Muda
Wilayah Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan masih mendominasi kasus kekurangan gizi, namun di banyak negara maju, 25% anak usia sekolah dan remaja mengalami kelebihan berat badan—angka yang nyaris stagnan dalam dua dekade terakhir.
UNICEF menegaskan, penyebab utama melonjaknya obesitas anak adalah konsumsi makanan ultra-olahan: mulai dari keripik, kue-kue kemasan, hingga sereal sarapan tinggi kalori. Makanan ini sarat gula, pati olahan, garam, lemak tidak sehat, pewarna, serta perasa buatan, dan perlahan menggantikan buah, sayur, dan protein berkualitas di piring anak-anak.
“Dominasi makanan ultra-olahan membuat jutaan anak kehilangan asupan nutrisi penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, hingga kesehatan mental,” tambah Russell.
Beban Ganda: Stunting dan Obesitas
Fenomena ini menciptakan “double burden of malnutrition” atau beban ganda malnutrisi.
Di satu sisi, balita di banyak negara masih mengalami stunting dan wasting akibat kekurangan gizi kronis.
Di sisi lain, jutaan anak yang lebih tua justru menghadapi risiko obesitas.
Bahkan di beberapa negara, makanan ultra-olahan menyumbang lebih dari separuh total kalori harian anak-anak.
Survei terbaru menunjukkan 75% anak dan remaja tertarik mencoba makanan modern yang mereka lihat dari iklan. Hal ini mendorong sejumlah negara mulai mengambil langkah membatasi iklan produk ultra-olahan agar tidak semakin membius anak-anak.







