Teknologi ini mampu memprediksi konsentrasi CO₂ di jalan raya setiap jam dengan resolusi 30 meter, sekaligus memberikan gambaran dinamis tentang perubahan emisi sepanjang hari.
Metode tersebut mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan kamera panoramik, penganalisis gas rumah kaca berpresisi tinggi, serta sensor meteorologi.
Data yang dikumpulkan meliputi konsentrasi CO₂, volume lalu lintas, tata letak bangunan, cakupan vegetasi, dan kondisi cuaca di lokasi survei.
BACA JUGA: Resmi Meluncur! Vespa LX 150 Hadir dengan Mesin I-Get dan Warna Baru, Harga Rp 46,5 Juta
Hasilnya, teknologi ini mencapai tingkat akurasi lebih dari 93 persen dalam mengidentifikasi sumber emisi.







