Geger! Klarna Akui Salah Besar Pakai AI, Kini Kembali Buru Ribuan Karyawan

KALIMANTANLIVE.COM – Ambisi besar Klarna, raksasa fintech asal Swedia, untuk mengganti manusia dengan kecerdasan buatan (AI) ternyata berujung penyesalan. Setelah memecat lebih dari 1.200 karyawan pada 2024 demi efisiensi, kini perusahaan justru membuka kembali puluhan lowongan kerja.

CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, blak-blakan mengaku bahwa strategi “all-in AI” ternyata keliru. Alih-alih meningkatkan produktivitas, keputusan itu membuat kualitas layanan dan produk mereka justru stagnan.

# Baca Juga :BREAKING NEWS! Eko Patrio Muncul di Polda Metro, Rumah Dijarah Habis-Habisan hingga Ngontrak di Pinggiran Jakarta

# Baca Juga :Delegasi Indonesia Mundur dari Flotilla Gaza, Serahkan 30 Kursi untuk Peserta Internasional

# Baca Juga :Lisa BLACKPINK Bikin Geger Emmy Awards 2025! Gaun Pink Asimetris dan Perhiasan Bulgari Jadi Sorotan Dunia

# Baca Juga :BMKG Ingatkan Kalsel & Kalteng! Hujan Petir Mengintai Seharian, Warga Diminta Hindari Aktivitas Luar Ruangan

“Kami mungkin terlalu berlebihan pakai AI. Enam bulan terakhir, kami mencoba memperbaikinya,” ungkap Siemiatkowski dalam wawancara dengan Reuters.

Dari PHK Massal hingga Chatbot CEO Palsu

Tahun lalu, Klarna memangkas ribuan pekerja hingga hanya menyisakan 3.800 orang dari 5.000 karyawan. Bahkan, mereka memutus kerja sama dengan vendor besar seperti Salesforce demi mengandalkan AI.

700 pegawai customer service diganti chatbot AI yang bisa menjawab pertanyaan pelanggan hanya dalam dua menit.

Klarna bahkan menghadirkan avatar AI CEO yang bisa memaparkan laporan kuartalan dan melayani hotline, seolah-olah pelanggan berbicara langsung dengan Siemiatkowski.

Hasilnya? Memang ada penghematan hingga Rp 32,7 miliar, tapi produktivitas dan kepuasan investor justru tak banyak berubah.

Putar Haluan: Rekrut Lagi Manusia

Kini, Klarna memasang lebih dari dua lusin lowongan kerja baru. Fokusnya adalah kembali meningkatkan produktivitas nyata dan kualitas layanan pelanggan. Siemiatkowski menegaskan, AI tetap dipakai, tetapi hanya sebagai pendukung, bukan pengganti total manusia.