KALIMANTANLIVE.COM – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) kian terancam. Lebih dari 1.700 bank di seluruh dunia kini beralih menggunakan yuan China melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas batas yang dikelola langsung oleh Beijing.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat melemahnya posisi dolar AS dalam perdagangan global.
# Baca Juga :Rupiah Melemah ke Rp16435 per Dolar AS pada Rabu Pagi
# Baca Juga :RUPIAH TERTEKAN! Nilai Tukar Melemah ke Rp 16.385 per Dolar AS, Ini Daftar Kurs di 5 Bank Besar
# Baca Juga :Rupiah Menguat Usai Powell Isyaratkan Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
# Baca Juga :Rupiah Melemah, Analis Sebut Terimbas Sentimen Demo dan Faktor Global
Lonjakan Transaksi Yuan via CIPS
Data The Economist mencatat, sepanjang 2024, CIPS memproses transaksi lintas batas senilai 175 triliun yuan (sekitar Rp402.325 triliun), naik 43% dibanding tahun sebelumnya.
Jaringan ini kini menjangkau peserta dari Turki, Mauritius, Uni Emirat Arab (UEA), hingga ekspansi terbaru ke Afrika dan Timur Tengah.
“Yuan mencapai level tertinggi sejak Trump terpilih kembali. Investor asing dan banyak pemerintah kini mencari alternatif dolar,” tulis laporan tersebut, Selasa (16/9/2025).
Dolar Melemah, Yuan Menguat
Mata uang Paman Sam tercatat anjlok 7% sejak Januari 2025, menjadi awal tahun terburuk sejak 1973. Penyebabnya antara lain:
Kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang fluktuatif
Defisit fiskal AS yang terus melebar
Ancaman terhadap independensi Federal Reserve
Berbeda dengan SWIFT yang mayoritas berbasis dolar, CIPS memungkinkan transaksi langsung dalam yuan. Hal ini memberi keuntungan besar bagi eksportir dan mitra dagang China karena bisa menghindari dolar sepenuhnya.
Eksportir China Dorong Transaksi Yuan
Han Kwee Juan, Head of Institutional Banking Group DBS, mengungkap tren ini makin nyata.
“Para eksportir China mulai bertanya: saya akan menjual dalam RMB (yuan), silakan selesaikan dalam RMB. Saya pikir tren ini akan berlanjut seiring perdagangan mereka meluas di luar AS,” ujarnya kepada Reuters.







