QUITO, KALIMANTANLIVE.COM – Ekuador kembali bergolak! Presiden Daniel Noboa resmi menetapkan keadaan darurat di tujuh provinsi pada Selasa (16/9/2025) usai gelombang protes besar-besaran pecah akibat kebijakan kontroversial penghapusan subsidi BBM.
Langkah Noboa yang diumumkan pekan lalu disebut mampu menghemat 1,1 miliar dolar AS untuk dialihkan ke program bantuan sosial dan pertanian. Namun, keputusan itu justru menyulut kemarahan rakyat, terutama kelompok miskin yang kini harus menghadapi kenaikan harga solar dari 1,80 dolar AS (Rp 29.500) menjadi 2,80 dolar AS (Rp 45.900) per galon.
# Baca Juga :RUSIA MAKIN TERPOJOK? AS Setujui Bantuan Senjata Rp 164 Triliun untuk Ukraina di Era Trump
# Baca Juga :SIAP-SIAP! Presiden Prabowo Bakal Evaluasi Besar-Besaran Institusi Polri, Reformasi Akan Dimulai Cepat
# Baca Juga :AKHIRNYA APPLE JUJUR! Akui Baterai iPhone Bisa Boros Usai Update iOS 26
# Baca Juga :WOW! Honda WN7 Resmi Meluncur: Motor Listrik Naked Rp 290 Juta dengan Tenaga Setara 600cc!
Sejarah Berulang, Rakyat Menolak!
Kebijakan serupa pernah gagal di era dua presiden sebelumnya yang tumbang akibat gelombang protes berdarah. Kini, bayang-bayang sejarah kembali menghantui, apalagi organisasi masyarakat adat paling berpengaruh, Conaie, mulai menyuarakan perlawanan. Meski belum resmi bergabung, Conaie dikenal sebagai kekuatan besar yang berhasil menggulingkan tiga presiden Ekuador antara 1997–2005.
Blokade Jalan & Kerusuhan Pecah
Situasi memanas pada Selasa sore ketika demonstran memblokir Jalan Raya Pan-American Utara dengan batu. Sehari sebelumnya, sopir truk juga melakukan aksi serupa hingga melumpuhkan transportasi. Akibatnya, rantai pasokan pangan terganggu, pergerakan masyarakat terbatas, dan sektor ekonomi nyaris lumpuh.
Presiden Noboa menyebut kondisi ini sebagai “kerusuhan internal yang parah” dan mengumumkan darurat 60 hari. Dalam dekrit darurat, pemerintah menangguhkan hak berkumpul dan mengizinkan militer turun ke jalan untuk membubarkan aksi protes yang dianggap mengancam keselamatan publik.
Gelombang Aksi Baru Sudah di Depan Mata
Tidak hanya masyarakat adat, mahasiswa dan serikat pekerja Front Pekerja Bersatu (FUT) juga menyerukan pawai besar di Quito. Aksi lebih besar diprediksi pecah pekan depan, berpotensi menambah panas situasi politik yang kian tak terkendali.







