Miris! RI Catat 11 Ribu Kasus Kanker Anak per Tahun, YKAKI Desak Percepatan Survival Rate

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Angka kanker anak di Indonesia masih mengkhawatirkan. Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Ira Soelistyo, mengungkapkan setiap tahun lebih dari 11 ribu kasus baru kanker anak tercatat di Tanah Air.

Dalam webinar memperingati Bulan Kesadaran Kanker Anak, Ira menekankan pentingnya mengejar survival rate (tingkat kesembuhan) agar setara dengan negara maju.

# Baca Juga :Ternyata SIM Mati Bisa Diperpanjang Tanpa Bikin Baru, Ini Satu-satunya Celah Resminya

# Baca Juga :Heboh Video Viral Kendaraan Pajak Mati Dilarang Beli BBM, Polisi & Pertamina Buka Fakta Sebenarnya!

# Baca Juga :Carlo Ancelotti Bongkar Luka Lama: “Pemecatan Bayern Paling Kejam Sepanjang Karier Saya!”

# Baca Juga :Geger! Starbucks Umumkan Penutupan Gerai & PHK Massal, 900 Pekerja Terancam

“Leukemia di luar negeri bisa sembuh 98–99 persen. Indonesia harus ke arah sana. Kanker anak bisa disembuhkan, asalkan penanganannya cepat, tepat, dan berkesinambungan,” tegas Ira saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025).

Kesadaran Orang Tua Meningkat, BPJS Jadi Penopang

Ira mengapresiasi tren positif kesadaran orang tua dalam menangani kanker anak. Jika dulu banyak orang tua bingung bahkan takut berobat, kini mereka lebih berani karena adanya dukungan BPJS Kesehatan.

“Dengan adanya BPJS, orang tua bisa lebih cepat membawa anak berobat. Kesadaran meningkat, ini perkembangan yang baik,” jelasnya.

Tantangan Besar: Sistem Rujukan dan Teknis Lapangan

Meski demikian, masih ada hambatan teknis dalam penanganan pasien. Salah satunya adalah rumitnya sistem rujukan BPJS yang sering membuat pasien harus mengulang prosedur.

“Ini memberatkan pasien maupun dokter. Semua pihak harus duduk bersama mencari solusi,” tegas Ira.

Peran YKAKI: Dari Rumah Singgah hingga Sekolah Anak Kanker

Sejak berdiri pada 2006, YKAKI aktif mendampingi pasien kanker anak dengan berbagai program. Mulai dari menyediakan rumah singgah, sekolah khusus anak kanker, hingga kegiatan pendampingan emosional dan edukatif.

Menurut Ira, sinergi dengan tenaga medis adalah kunci keberhasilan. Namun ia menegaskan, keberlanjutan penanganan tidak bisa hanya diserahkan pada rumah sakit.

“Harus ada komitmen kuat pemerintah dan semua stakeholder. Harus win-win solution untuk pasien, rumah sakit, dan tenaga medis,” tandasnya.