Padi Hasil Panen Desa Lempuyang Kabupaten Kotim Manumpuk, Petani Terpaksa Jual ke Tengkulak Luar Kalteng

SAMPIT, Kalimantanlive.com – Sudah beberapa minggu ini para petani yang berada di sentra produksi padi di Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah atau Provinsi Kalteng resah.

Betapa tidak, padi hasil pertanian mereka menumpuk setelah dilakukan beberapa kali pesta panen. Informasi terhimpun gabah hasil panen mereka tak terjual, karena  Bulog Sampit tak lagi ambil beras mereka.

Gabah hasil panen petani Desa Lempuyang Kabupaten Kotim tersebut tidak lagi diambil Bulog Sampit, karena alasan gudang sedang penuh sehingga tidak dapat menampung beras petani lokal.

Akibatnya, petani tidak ingin  hasil panen mereka membusuk jika tidak dijual, sehingga terpaksa menjualnya kepada para tengkulak asal Kalimantan Selatan (Kalsel).

Hal itu dibenarkan, Wakil Ketua II DPRD Kotim, Rudianur, yang merupakan anggota DPRD daerah pemilihan setempat yang mendapat informasi langsung dari petani setempat.

Baca Juga :Cegah Karhutla, Waket DPRD Kotim Rudianur Sebut Diperlukan Langkah Antisipatif Sejak Dini

Sebab itu, Anggota DPRD Kotim ini, meminta Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur atau Pemkab Kotim turut mencarikan solusi agar beras Kotim tidak berubah nama daerah lain setelah dikemas dan dijual tengkulak luar Kotim.

“Saya dapat informasi dari petani Desa Lempuyang gudang Bulog sudah penuh, sehingga beras petani lokal Desa Lempuyang tak bisa lagi tertampung.

Baca Juga :Keruk Sungai Mentaya Pemkab Kotim Gandeng Pihak Ketiga, Bupati H Halikinnor Berharap Akhir Tahun 2025 Terealisasi

Diungkapkan dia, hal tersebut sudah terjadi sekitar satu bulan terakhir, sehingga mereka terpaksa kembali menjual beras ke terkulak Kalsel.

“Ini karena, petani kebingungan menjual gabah keringnya, setelah Bulog menolak hasil panen mereka alasannya gudang penuh tak bisa lagi menampung,” tegas Rudianur, kemarin.

Kader Partai Golkar ini, mengungkapkan, Bulog tidak selayaknya menolak paqdi hasil panen petani lokal. “Alasan ini tidak bisa dijadikan dalih untuk menghentikan penyerapan gabah petani lokal,” tegasnya.

Menurut dia, beras petani lokal dijual ke Bulog tersebut dengan harapan agar petani lokal tidak lagi menjual ke tengkulak.