Harga Emas Meledak! Akhir 2025 Bisa Tembus Rp 2,3 Juta/Gram, Waspada Dampaknya ke Dompetmu!

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Harga emas terus melesat hingga menyentuh titik tertinggi sepanjang sejarah (all-time high/ATH). Ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik, perang dagang, hingga kebijakan suku bunga The Fed membuat logam mulia jadi primadona investasi.

Hari ini, harga emas Antam sudah menembus Rp 2.198.000 per gram. Pengamat ekonomi sekaligus analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menegaskan bahwa tren kenaikan ini belum akan berhenti.

# Baca Juga :Harga Emas Antam Meledak Pecah Rekor Lagi, Sentuh Rp 2,2 Juta/Gram!

# Baca Juga :Harga Emas Pegadaian Hari Ini 26 September 2025: Galeri24, UBS, dan Antam Kompak Anjlok hingga Rp 8.000!

# Baca Juga :Harga Emas Hari Ini, Selasa 23 September 2025: Antam & UBS Melonjak, Galeri24 Tetap Stabil!

# Baca Juga :Harga Emas Antam Tembus Langit! Pecah Rekor Lagi di Rp 2,1 Juta/Gram

Prediksi Harga Emas Dunia

Ibrahim mengungkapkan, harga emas global kini sudah hampir mencapai US$ 3.800 per troy ons, hanya selisih tipis sebelum melampaui rekor. Ia bahkan memperkirakan akhir 2025 bisa menyentuh US$ 3.850 per troy ons.

Artinya, harga emas domestik di Indonesia bisa tembus di atas Rp 2,3 juta per gram.
“Di bulan Oktober–November, target US$ 3.850 sangat mungkin tercapai. Apalagi konflik dagang dan geopolitik masih panas,” jelas Ibrahim.

Faktor Pendorong Kenaikan

Ekonomi AS: perang dagang, potensi penurunan suku bunga The Fed, serta melemahnya pasar tenaga kerja.

Geopolitik: konflik di Timur Tengah (Israel–Palestina) dan Eropa (Rusia–Ukraina vs NATO).

Rupiah Melemah: nilai tukar mendekati Rp 16.800 per dolar membuat harga emas domestik kian melonjak.

“Kalau emas global naik, rupiah melemah, ya harga logam mulia pasti melesat tajam,” tegas Ibrahim.

Antam Ikut Melonjak, Tapi Ada Batas

Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, sepakat bahwa tren harga emas masih akan menanjak. Namun ia menilai harga emas domestik masih sulit tembus di atas Rp 2,400.000 per gram, karena Bank Indonesia akan melakukan intervensi demi menahan pelemahan rupiah.