SEOUL, KALIMANTANLIVE.COM – Kabar mengharukan datang dari SUGA BTS. Rapper sekaligus produser musik dunia ini kembali menunjukkan kepeduliannya dengan mendonasikan sekitar 5 miliar won (Rp 56 miliar) untuk mendirikan pusat terapi autisme di Seoul, Korea Selatan.
Fasilitas itu resmi berdiri dengan nama Min Yoon Gi Treatment Center, diambil dari nama asli Suga, dan dibuka pada 30 September 2025 di Rumah Sakit Severance, Seodaemun-gu, Seoul.
# Baca Juga :WASPADA! Hujan Ringan dan Berawan, Prakiraan Cuaca Kalsel & Kalteng Rabu 1 Oktober 2025!
# Baca Juga :Sinergi Lima Ranting, PCA Aisyiyah Banjarmasin 11 Gelar Kajian Inspiratif “Jalan Surga untuk Ibu”
# Baca Juga :Detik Mencekam Ponpes Al Khoziny: Santri Terjebak di Reruntuhan, Ketukan Beton Jadi Tanda Masih Hidup
# Baca Juga :Makin Populer di Korea Selatan, Makanan Hampir Kedaluwarsa Jadi Pilihan Hemat dan Ramah Lingkungan
Musik Jadi Terapi
Pusat terapi ini dipimpin Profesor Chun Geun Ah, psikiater anak ternama di Korea. Berbagai fasilitas modern tersedia, mulai dari ruang terapi bahasa, perilaku, musik, hingga kelompok sosial yang dirancang dengan akustik kedap suara.
Yang menarik, karya seni seniman autis Lee Gyu Jae juga dipajang di ruang tunggu, menambah nuansa inklusif dan penuh makna.
Tak hanya mendonasikan dana fantastis, Suga juga turun langsung terlibat. Pada November 2024, ia sempat menjadi relawan dengan memainkan gitar dalam sesi terapi anak-anak autis. Pengalaman ini kemudian melahirkan program MIND (Music·Interaction·Network·Diversity) bersama Profesor Chun.
Program MIND menggabungkan musik dan terapi sosial, membuat anak-anak dengan keterbatasan kognitif maupun komunikasi verbal menjadi lebih aktif.
“Anak-anak yang sebelumnya pasif dalam terapi wicara jadi lebih bersemangat saat sesi bersama Suga. Mereka memilih alat musik sendiri dan ikut memainkan irama dengan antusias,” ungkap pihak Rumah Sakit Severance, dikutip Rabu (1/10/2025).
Harapan Baru untuk Autisme
Profesor Chun menegaskan, musik bukan sekadar hiburan, tetapi mampu meningkatkan hasil terapi serta keterampilan sosial anak-anak autis.
“Melihat mereka bekerja menuju kemandirian memberi harapan besar untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap disabilitas perkembangan,” jelasnya.







