Kalimantanlive.com – Tim SAR gabungan harus bekerja ekstra dengan menggali jalur sempit dan merayap hingga tiga jam di bawah beton untuk menyelamatkan para santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur.
Direktur Operasi Basarnas, Yudhi Bramantyo, menjelaskan metode ini dipilih karena struktur bangunan yang rapuh membuat penggunaan alat berat berisiko.
BACA JUGA: Evakuasi Korban Musala Ambruk di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Masih Berlanjut
“Diameter galian hanya sekitar 60 sentimeter dengan kedalaman 80 sentimeter. Personel harus tengkurap dan merayap selama tiga jam setiap shift agar bisa menjangkau lokasi korban,” ujarnya, Kamis (2/10).
Upaya itu berhasil mengevakuasi tujuh korban tambahan pada Rabu (1/10) malam, sehingga total korban yang ditemukan sejak operasi hari pertama mencapai 18 santri.
Dari tujuh korban terbaru, lima selamat dan dua meninggal dunia.










