Pupuk Bersubsidi Terbatas, Petani Kecamatan Teluk Sampit Mengeluh Saat Reses Anggota DPRD Kotim

SAMPIT, Kalimantanlive.com – Sejumlah petani di Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur mengeluhkan terbatasnya pengadaan pupuk bersubsidi yang diberikan kepada petani.

Informasi dari para petani di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur akibat keterbatasan pupuk bersubsidi tersebut membuat biaya tinggi untuk petani setempat.

Hal itu terungkap saat Anggota DPRD Kotim melakukan reses ke daerah tersbeut dan menampung aspirasi masyarakat setempat terutama para petani.

Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyanoor,  mengungkapkan, keterbatasan pupuk bersubsidi menjadi salah satu yang diungkapkan para pertani setempat.

Baca Juga :Rimbun Sepakat Soal Pembangunan Gedung Baru DPRD Kotim di Jalan Lingkar Utara Sampit

Dia menyebutkan masyarakat mengeluh terbatasnya pupuk bersubsidi yang disalurkan pemerintah pusat untuk petani di Kecamatan Teluk Sampit tersebut.

Padahal, menurutnya rata di wilayah tersebut masing-masing petani memiliki memiliki lebih dari enam hektar lahan padi.

Namun, karena keterbatasan pupuk bersubsidi yang salurkan oleh pemerintah sehingga mereka harus merogoh kocek yang lebih banyak untuk keperluan pupuk.

Baca Juga :Ketua DPRD Kotim Dukung Pemkab Beri Pelayanan Terbaik untuk Calon Jemaah Haji

” Keterbatasan pupuk bersubsidi ini menjadi keluhan para petani, karena pupuk bersubsidi yang disalurkan oleh pemerintah terbatas jadi mereka terpaksa mengeluarkan tambahan modal yang tentunya tidak sedikit,” ungkapnya, belum lama tadi.

Dia juga berharap terkait program Koperasi Desa Merah Putih yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto nantinya akan ada dampak positif yang didapatkan oleh para petani padi.

Selain bertujuan meningkatkan ketahanan pangan untuk kemandirian bangsa, keberadaan koperasi yang akan menjadi milik desa/kelurahan ini juga guna menekan harga gabah padi.

” Jika Koperasi Desa Merah Putih ini terrealisasi tentunya akan dapat menekan harga gabah, karena sejauh ini karena banyak dari luar seenaknya membeli gabah dan menjual lagi ke Kotim dengan harga tinggi,” terangnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan