KALIMANTANLIVE.COM, JAKARTA – Kasus dugaan kekerasan dalam orientasi komunitas pencinta alam di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), bikin heboh publik. Sejumlah remaja peserta orientasi dilaporkan mengalami penganiayaan, salah satunya AA (16), yang ditampar bergiliran oleh belasan seniornya.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, langsung angkat bicara dan mendesak agar kasus ini diproses hukum secara serius.
# Baca Juga :BREAKING WEATHER! Kalsel & Kalteng Dibayangi Hujan, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jumat 3 Oktober 2025
# Baca Juga :Mau Pecah Sertifikat Tanah? Wajib Tahu Dokumen & Prosedur Resminya!
# Baca Juga :TERBONGKAR! Fakta Mengejutkan Sosok “Bjorka” Gadungan yang Dibekuk Polisi, Ternyata Bukan Hacker Profesional!
# Baca Juga :Mengejutkan! Jennifer Aniston Akui Alami Rambut Rontok karena Stres, Kini Punya Cara Ampuh Atasi
“Kami mendukung langkah hukum yang telah diambil Polres Bitung. Kegiatan yang melibatkan anak dan remaja seharusnya jadi ruang aman untuk pengembangan diri, bukan tempat mewariskan budaya kekerasan,” tegas Hadrian, Kamis (2/10/2025).
Korban Ditampar 10 Senior dengan Mata Ditutup
Kuasa hukum keluarga korban, Bili Ladi, menyebut AA dipukul lebih dari 10 orang seniornya saat orientasi di Gunung Dua Sudara, Bitung, 26–28 September 2025.
“Korban ditampar bergantian. Yang terekam hanya dua orang, karena mata korban ditutup jadi dia tidak bisa melihat,” ungkap Bili.
AA sendiri diketahui sudah hobi mendaki sejak SMP. Ibunya mendukung penuh karena ingin anaknya terbiasa fisik untuk persiapan masuk TNI setelah lulus SMA.
DPR Minta Evaluasi Organisasi Nonformal
Hadrian menekankan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga organisasi masyarakat. Ia mendesak komunitas pencinta alam dan organisasi sejenis mengevaluasi mekanisme penerimaan anggota, agar tak lagi ada praktik perpeloncoan apalagi kekerasan.
“Sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan perlu diperkuat. Semua kegiatan yang melibatkan remaja harus membangun karakter berintegritas, bukan merusak martabat manusia,” tambahnya.







