JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tragedi ambruknya bangunan tiga lantai Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, mengungkap fakta mengejutkan. Sejumlah santri mengaku ada tradisi hukuman berupa ikut membantu pengecoran bangunan bila kedapatan bolos kegiatan pondok.
Hukuman Ikut Ngecor Bangunan
# Baca Juga :Evakuasi Santri Al Khoziny: Tim SAR Merayap 3 Jam di Bawah Reruntuhan
# Baca Juga :Evakuasi Korban Musala Ambruk di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Masih Berlanjut
# Baca Juga :Detik Mencekam Ponpes Al Khoziny: Santri Terjebak di Reruntuhan, Ketukan Beton Jadi Tanda Masih Hidup
# Baca Juga :Harga Emas Pegadaian 1 Oktober 2025 Melejit! Galeri24 & Antam Kompak Naik, UBS Malah Terjun Bebas
Seorang santri yang sudah enam tahun mondok di Al Khoziny menceritakan, meski tidak wajib, sebagian santri kerap diminta membantu tukang bangunan jika melanggar aturan.
“Kalau enggak ikut kegiatan, itu nanti disuruh bantuin ngecor. Banyak tukang sih, santri cuma bantuin aja,” ungkapnya, Rabu (1/10/2025).
Ia menegaskan, pekerjaan itu memang didampingi tukang, bukan sepenuhnya diserahkan pada santri. Namun, tradisi tersebut sudah lama berjalan sebagai bentuk hukuman internal pondok.
Selamat karena Tak Berada di Lokasi
Santri itu bersyukur karena saat bangunan ambruk, ia tidak berada di lokasi. Saat tiba di pondok, musala sudah rata dengan tanah.
“Pas saya sampai sana, musalanya memang sudah ambruk. Pas salat Asar, imamnya selamat, tapi banyak jamaah yang jadi korban,” ceritanya dengan suara bergetar.
Ratusan Santri Jadi Korban
Bangunan tiga lantai yang masih dalam proses pengerjaan itu ambruk saat ratusan santri tengah salat berjamaah. Bongkahan beton menimpa barisan belakang, menyebabkan puluhan luka-luka dan sejumlah korban meninggal dunia.







