JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Di tengah megahnya Kota Roma, berdiri sebuah mahakarya arsitektur kuno yang menantang zaman: Pantheon. Bangunan legendaris ini telah berdiri tegak selama hampir dua milenium, namun keindahan dan kekokohannya masih membuat para ilmuwan modern terheran-heran.
Tak hanya menjadi ikon sejarah, Pantheon juga membuktikan bahwa teknik konstruksi Romawi kuno jauh melampaui peradaban lain di masanya. Pertanyaannya: apa rahasia kekuatan Pantheon sehingga mampu bertahan 2.000 tahun lamanya?
# Baca Juga :Lukisan Kuno yang Terkubur 2.000 Tahun di Pompeii Ditemukan, Arkeolog Sebut Awal Mula Perang Troya
# Baca Juga :Kepulauan Farasan Saudi Banyak Terkubur Artefak Kuno, Tim Arkeolog Temukan Peninggalan Romawi Kuno
# Baca Juga :TERNYATA Candi Borobudur Tak Pernah Masuk dalam 7 Keajaiban Dunia, Versi Kuno atau Baru
Jejak Sejarah Pantheon yang Tak Lekang Waktu
Pantheon pertama kali dibangun oleh Marcus Vipsanius Agrippa pada 27 SM. Meski sempat hancur karena kebakaran dan tersambar petir, bangunan ini kembali dibangun pada era Kaisar Hadrianus pada 128 M.
Bangunan megah ini terus mengalami renovasi, termasuk pada masa Septimius Severus dan Caracalla di abad ketiga. Bahkan sejak 609 M, Pantheon dialihfungsikan menjadi Gereja Santa Maria Rotonda, yang hingga kini masih aktif digunakan. Hal ini menjadikannya bangunan tertua di dunia yang masih difungsikan hingga sekarang.
Keindahan Arsitektur yang Memukau Dunia
Pantheon dikenal dengan kubah raksasa berdiameter 43 meter dan tinggi 22 meter. Di puncaknya terdapat lubang berdiameter 8 meter yang disebut oculus atau “mata” dalam bahasa Latin. Oculus berfungsi sebagai jendela cahaya alami sekaligus saluran air hujan.
Lantai Pantheon berkilau dengan marmer warna-warni berkualitas tinggi yang konon diimpor dari Mediterania. Sementara dinding interiornya dipenuhi karya seni Renaissance yang memanjakan mata. Tak heran, maestro pahatan Italia, Michelangelo, sampai menyebut Pantheon sebagai “karya malaikat, bukan manusia.”
Bahan Rahasia: Abu Vulkanik dari Pozzuoli
Studi ilmiah modern akhirnya mengungkap kunci daya tahan Pantheon. Bahan utamanya bukan sekadar beton biasa, melainkan campuran pozzolan (abu vulkanik dari Pozzuoli), kapur, dan air.
Kandungan silika dan alumina dalam abu vulkanik bereaksi dengan kapur sehingga menghasilkan beton yang lebih kuat, fleksibel, dan tahan lama dibanding beton modern. Inilah yang membuat Pantheon tetap kokoh meski diterpa waktu, gempa, dan cuaca ekstrem selama ribuan tahun.







