JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia kembali diguncang kabar memilukan dari India. Sebanyak sembilan anak di bawah usia lima tahun dilaporkan meninggal dunia diduga akibat mengonsumsi sirup obat batuk yang terkontaminasi bahan kimia beracun.
Kasus tragis ini terjadi di negara bagian Madhya Pradesh dan Rajasthan sejak akhir Agustus 2025, dan kini tengah diselidiki oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India.
# Baca Juga :Waket DPRD Kalteng Soroti Kejadian Keracunan Makanan Program MBG di Palangkaraya dan Pulau Jawa
# Baca Juga :Oman Larang Impor Air Kemasan Iran Usai Insiden Keracunan, Dua Orang Meninggal
# Baca Juga :Geger! Cucu Mahfud MD Jadi Korban Keracunan MBG di Yogyakarta, Satu Dirawat di RS
# Baca Juga :BGN Hentikan Sementara 56 Dapur MBG Imbas Kasus Keracunan Berulang
Diduga Mengandung Zat Mematikan Dietilen Glikol
Dalam penyelidikan awal, otoritas kesehatan India menemukan bahwa sirup batuk merek Coldrif, yang diproduksi oleh Sresan Pharma di Tamil Nadu, mengandung zat beracun dietilen glikol (DEG) dalam kadar yang sangat berbahaya.
“Sampel sirup tersebut ditemukan mengandung DEG di atas ambang batas yang diizinkan,”
ujar Kementerian Kesehatan India dalam pernyataan resminya.
DEG sendiri merupakan pelarut industri beracun yang biasa digunakan pada bahan pendingin dan cairan rem kendaraan. Zat ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga kematian jika tertelan — bahkan dalam dosis kecil.
Penjualan Sirup Coldrif Dilarang
Menanggapi temuan itu, Kepala Menteri Madhya Pradesh Mohan Yadav langsung mengeluarkan larangan total terhadap penjualan sirup Coldrif di wilayahnya.
“Penjualan produk lain dari perusahaan yang sama juga turut dihentikan,” katanya.
Langkah serupa juga diambil oleh otoritas Tamil Nadu dan Kerala, setelah laboratorium setempat memastikan adanya kontaminasi DEG dalam sampel yang diambil langsung dari pabrik Sresan Pharma di Kanchipuram.
Meski begitu, hasil uji laboratorium oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Madhya Pradesh (MPFDA) menunjukkan bahwa tiga dari 13 sampel dinyatakan aman, sementara sisanya masih diuji ulang untuk memastikan sumber pencemaran.
Investigasi Nasional dan Sorotan Dunia
Kasus ini memaksa pemerintah India meluncurkan inspeksi besar-besaran terhadap 19 perusahaan farmasi di enam negara bagian. Tujuannya, memastikan sistem pengendalian mutu obat berjalan ketat dan mencegah tragedi serupa.
Kematian anak akibat sirup batuk terkontaminasi bukan kali pertama terjadi. Tahun 2022 lalu, lebih dari 70 anak di Gambia meninggal dunia setelah mengonsumsi sirup produksi perusahaan India, yang juga mengandung dietilen glikol.







