JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM — Polemik kandungan etanol 3,5 persen dalam base fuel Pertamina tengah jadi sorotan publik. Pasalnya, dua perusahaan ritel BBM swasta — BP dan Vivo — dikabarkan membatalkan pembelian dari Pertamina lantaran bahan bakar tersebut tak sesuai dengan spesifikasi teknis mereka.
Namun, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat:
# Baca Juga :DRAMA DI JOHAR BARU! Ayah 58 Tahun Ditusuk Saat Lerai Anak Berkelahi Soal HP, Polisi: Tak Bisa Ditoleransi!
# Baca Juga :WARGA KOMPAK BATUK-PILEK! Dokter Paru Bongkar Pemicu Utamanya: Cuaca Gila & Virus Ganda!
# Baca Juga :GEMPARKAN TEGAL! Batu Misterius Diduga METEOR Jatuh di Pekarangan Warga, Sempat Bikin Kaca Bergetar!
# Baca Juga :ULAR MAUT SUKABUMI! Panji Petualang Ungkap Dugaan di Balik Duel Mematikan Abah Ocang vs King Cobra 4 Meter!
Apakah benar kandungan etanol bikin BBM jadi lebih boros dan menurunkan performa kendaraan?
Kisruh ini bermula saat pemerintah meminta SPBU swasta seperti BP, Vivo, dan Shell membeli stok BBM impor melalui Pertamina di tengah kelangkaan pasokan.
Awalnya, kesepakatan sudah tercapai — namun kemudian batal setelah diketahui ada etanol 3,5% di dalam bahan bakar dasar Pertamina.
Presiden Direktur BP-AKR, Vanda Laura, menegaskan bahwa BBM BP saat ini belum diformulasikan dengan etanol, sehingga tidak sesuai dengan standar perusahaan.
“Salah satu concern-nya karena etanol, memang diformulasi kami sampai saat ini belum mengandung etanol,” jelasnya.
Benarkah Etanol Bikin Boros?
Menurut Guru Besar Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Prof. Tri Yus Widjajanto, kekhawatiran soal borosnya BBM akibat etanol tidak sepenuhnya benar.
Ia menjelaskan bahwa kandungan energi etanol (26,8–29,7 MJ/kg) memang lebih rendah dari bensin (sekitar 40 MJ/kg). Namun dengan kadar hanya 3,5%, penurunan energinya hanya sekitar 1% — dan itu tidak akan terasa sama sekali.
“Daya mesin berkurang sekitar 1%, tapi pengendara tidak akan merasakan perbedaan. Konsumsi bahan bakar juga tidak jadi lebih boros,” ujar Tri kepada detikFinance.
Bahkan, lanjutnya, etanol justru menaikkan nilai oktan (RON) hingga 4 poin, membuat tarikan mesin tetap halus dan pembakaran lebih sempurna.
Dosen Jurusan Rekayasa Minyak dan Gas ITERA, Muhammad Rifqi Dwi Septian, menambahkan bahwa etanol punya kandungan oksigen tinggi sehingga pembakarannya lebih sempurna.
Dampaknya, emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon sisa pembakaran dapat berkurang signifikan.
“Dengan etanol, kadar polutan bisa berkurang, artinya lebih ramah lingkungan,” ungkap Rifqi.










