KALIMANTANLIVE.COM – Era baru Manchester United di bawah kendali Sir Jim Ratcliffe tampaknya bakal berjalan keras tapi visioner. Meski sempat menuai hujatan karena langkah-langkah tegasnya, miliarder asal Inggris itu bertekad menjadikan Setan Merah sebagai klub sepak bola paling cuan di dunia.
Selama beberapa tahun terakhir, MU memang mengalami keterpurukan finansial. Klub raksasa Premier League itu belum pernah meraih keuntungan sejak 2019, dengan kerugian kumulatif mencapai £400 juta (sekitar Rp 8 triliun) hingga tahun lalu.
# Baca Juga :Manchester United Resmi Gaet Kiper Muda Belgia Senne Lammens
# Baca Juga :Real Betis Resmi Datangkan Antony Secara Permanen dari Manchester United
# Baca Juga :Grimsby Town Permalukan Manchester United, Setan Merah Tersingkir dari Carabao Cup
# Baca Juga :Grimsby Town Hancurkan Manchester United di Carabao Cup: Amorim Akui ‘Tim Terbaik yang Menang’”
Namun kini, di bawah kepemimpinan Ratcliffe, perubahan besar mulai tampak.
Kerugian Menyusut Drastis
Laporan terbaru menunjukkan kabar menggembirakan. Pada September 2025, Manchester United berhasil memangkas kerugiannya dari £113,2 juta menjadi hanya £33 juta hingga Juni lalu.
Sebuah penurunan tajam yang disebut-sebut sebagai hasil langsung dari strategi efisiensi brutal Ratcliffe.
PHK Massal 400 Pegawai Demi Efisiensi
Langkah pertama Ratcliffe yang paling kontroversial adalah pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 400 pegawai MU.
Tak hanya staf administrasi, tetapi juga pegawai senior dan tim pencari bakat ikut terkena imbas.
Banyak pihak menilai keputusan itu kejam, namun Ratcliffe menyebutnya langkah realistis untuk menyelamatkan masa depan klub.
“Biayanya terlalu tinggi. Ada orang-orang hebat di Manchester United, tapi juga banyak yang biasa-biasa saja. Organisasi ini sudah terlalu besar,” ujar Ratcliffe dikutip dari BBC Sport.
Makan Siang Gratis Dihapus, Ratcliffe Tegas Bicara Soal “Disiplin Keuangan”
Kritik juga datang karena Ratcliffe menghapus fasilitas makan siang gratis yang selama ini dinikmati pegawai klub.
Namun ia membalas dengan kalimat yang jadi sorotan publik:
“Saya mendapat banyak kecaman karena makan siang gratis, tapi tidak ada yang pernah memberi saya makan siang gratis.”
Pernyataannya mencerminkan gaya kepemimpinan tegas dan kalkulatif — sesuatu yang diyakini bisa membawa MU ke arah profitabilitas tinggi seperti klub-klub elit dunia lainnya.







