JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia sains kembali mencatat sejarah baru! Tiga ilmuwan lintas negara dinobatkan sebagai peraih Nobel Bidang Fisiologi atau Kedokteran tahun 2025 atas temuan luar biasa mereka tentang toleransi imun perifer, yang menjelaskan bagaimana tubuh mencegah sistem kekebalan menyerang dirinya sendiri.
Dalam laman resmi Nobel Prize, penghargaan tersebut diberikan “for their discoveries concerning peripheral immune tolerance” atau “atas penemuan mereka mengenai toleransi imun perifer.”
# Baca Juga :KISAH INSPIRATIF DI BALIK HADIAH NOBEL KIMIA 2025: Ilmuwan Eks Pengungsi Palestina Raih Penghargaan Tertinggi
# Baca Juga :Protes Invasi Ukraina, Jurnalis Rusia Peraih Nobel Disiram Cat, Mata Dmitry Muratov Iritasi
# Baca Juga :GILA! Utang Pinjol Penduduk RI di Luar Nalar! Tembus Rp87,61 Triliun, Naik Tajam dalam Setahun
# Baca Juga :TOYOTA BERI TAMPARAN HALUS: “Ribut-ribut Etanol 3,5%, di Luar Negeri Sudah 85–100%!”
Temuan monumental ini membuka pintu bagi pemahaman baru mengenai sistem imun manusia — mengapa sebagian besar dari kita tidak terserang penyakit autoimun berat, dan bagaimana penelitian ini bisa membantu pengobatan kanker, penyakit autoimun, hingga keberhasilan transplantasi organ.
Ketua Komite Nobel, Olle Kämpe, menyebut, “Penemuan mereka sangat menentukan pemahaman kita tentang cara kerja sistem kekebalan tubuh.”
Total hadiah senilai 11 juta krona Swedia (sekitar Rp19,3 miliar) akan dibagi rata untuk ketiga ilmuwan hebat berikut:
1. Shimon Sakaguchi (Jepang)
Profesor imunologi terkemuka dari Osaka University dan Kyoto University ini dikenal sebagai sosok yang mengubah paradigma dunia kedokteran.
Pada 1995, Sakaguchi menemukan jenis sel imun baru yang kemudian disebut sel T regulator, penjaga utama yang mencegah sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri.
Ia lahir di Shiga, Jepang, pada 19 Januari 1951, dan meraih gelar Doctor of Medicine (1976) serta Ph.D (1983) dari Kyoto University.
2. Mary E. Brunkow (Amerika Serikat)
Ilmuwan perempuan kelahiran Oregon tahun 1961 ini adalah ahli biologi molekular dan imunologi lulusan University of Washington serta Princeton University.
Pada 2001, Mary bersama koleganya menemukan bahwa mutasi gen Foxp3 menyebabkan penyakit autoimun serius, IPEX.
Kini ia menjabat sebagai Senior Program Manager di Institute for Systems Biology, Seattle, AS.







