Studi Harvard vs World Happiness Report
Berbeda dari World Happiness Report yang hanya menilai kepuasan pribadi seseorang terhadap hidupnya, Global Flourishing Study menilai kesejahteraan sosial yang lebih menyeluruh — termasuk lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan kolektif.
“Flourishing mencakup lebih dari sekadar kebahagiaan pribadi. Ia juga menyoroti kondisi sosial yang memungkinkan seseorang hidup dengan bermakna,” jelas para penulis studi tersebut.
Menariknya lagi, studi ini menemukan adanya pergeseran kurva kebahagiaan berbentuk U.
Jika dulu kebahagiaan cenderung tinggi di usia muda, menurun di usia pertengahan, dan meningkat lagi di usia lanjut, kini pola itu semakin kabur.
Kelompok usia 18–29 tahun justru menunjukkan tingkat flourishing lebih rendah dari perkiraan. Para ahli menduga penyebabnya antara lain isolasi sosial, tekanan finansial, ketidakstabilan politik, serta hilangnya makna dan arah hidup.
Peneliti menegaskan bahwa idealnya, negara yang benar-benar maju bukan hanya kaya secara ekonomi, tapi juga memiliki masyarakat yang menemukan makna dan keseimbangan hidup.
“Tujuan dari masyarakat ideal adalah memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus makna hidup yang kuat — tantangannya adalah bagaimana mewujudkannya,” tulis mereka.
Indonesia membuktikan bahwa kebahagiaan dan kemakmuran sejati tidak diukur dari tebalnya dompet, melainkan dari kuatnya ikatan sosial, nilai moral, dan makna hidup yang dijalani bersama.
Harvard menyimpulkan: “Negara yang benar-benar maju adalah negara yang rakyatnya hidup dengan hati yang bahagia dan tujuan yang jelas.”
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







