KALIMANTANLIVE.COM — Suasana perbatasan Kamboja–Thailand kembali memanas! Pemerintah Kamboja menuding Thailand melakukan perang psikologis dengan cara tak biasa — menyiarkan suara-suara horor di sepanjang garis perbatasan.
Suara misterius itu terdengar sejak 10 Oktober 2025 setiap malam. Warga mengaku mendengar lolongan anjing, tangisan anak kecil, derak rantai besi, hingga suara helikopter yang meraung-raung di langit. Semua suara itu diputar lewat pengeras suara besar — yang dalam istilah Indonesia dikenal sebagai sound horeg.
# Baca Juga :WASPADA! Harga Emas Antam Anjlok Rp13.000 per Gram Hari Ini, Rekor Tertinggi Kini Terpukul!
# Baca Juga :VIRAL! Menkeu Purbaya Buka Kanal “Lapor Pak Purbaya”, 15 Ribu Pesan Masuk, Soal Bea Cukai Paling Banyak!
# Baca Juga :GEGER! Menteri Purbaya Ungkap Bukti Panas Jual-Beli Jabatan Masih Marak di Daerah, Bekasi & Sorong Disorot!
Presiden Senat Kamboja, Hun Sen, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM) dan telah melapor resmi ke PBB untuk penyelidikan.
“Suara-suara ini mengganggu tidur, menimbulkan kecemasan, dan menyebabkan ketidaknyamanan fisik pada warga, termasuk perempuan dan anak-anak,” tulis Hun Sen dalam suratnya kepada Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk, dikutip dari The Independent (17/10/2025).
Serangan Bunyi: Dari Lolongan Anjing hingga Tangisan Anak
Menurut laporan organisasi HAM Kamboja, suara-suara menyeramkan itu terdengar dari pengeras suara berdaya tinggi di wilayah perbatasan sengketa.
Warga melaporkan, setiap malam mereka dikejutkan oleh:
Lolongan anjing panjang dan menggema
Tangisan bayi dan anak kecil
Deru helikopter militer
Dentuman dan suara rantai logam beradu
Kampanye kebisingan ini disebut mengacaukan kesehatan mental warga, terutama anak-anak.
Anak-Anak Alami Trauma dan Mimpi Buruk
Yan Lay, Direktur Eksekutif Koalisi Hak Anak Kamboja, menuturkan bahwa suara horor tersebut berdampak besar pada psikologis anak-anak.
“Suara menakutkan itu membuat anak-anak sulit tidur, mengalami mimpi buruk, bahkan serangan panik di malam hari,” ujarnya.
“Banyak anak takut ke sekolah karena cemas mendengar suara itu lagi.”
Kondisi ini, kata Yan, dapat menghambat proses belajar dan tumbuh kembang anak-anak di wilayah terdampak.







