KALIMANTANLIVE.COM – Drama besar kembali menghantam dunia sepak bola Eropa! Klub raksasa asal Catalan, FC Barcelona, kini berada di ujung tanduk setelah Presiden Joan Laporta mengungkap ancaman serius yang bisa membuat Blaugrana dilarang tampil di Liga Champions musim depan.
Ya, sang raksasa yang dulu ditakuti kini tengah dikejar bayang-bayang sanksi Financial Fair Play (FFP) dari UEFA.
# Baca Juga :Mbappe Meledak di Liga Champions 2025-2026, Hat-trick Buatnya Raja Top Skor – Kane & Haaland Tempel Ketat
# Baca Juga :Cedera Ringan, Chiesa Absen Saat Liverpool Hadapi Galatasaray di Liga Champions
# Baca Juga :Jadwal Liga Champions Pekan Ini: Chelsea vs Benfica, Barcelona Tantang PSG Sang Juara Bertahan
# Baca Juga :Mental Baja! Xabi Alonso Ajak Real Madrid Lupakan Derbi Kelam & Fokus Tumbangkan Kairat Almaty di Liga Champions
Masalah keuangan Barcelona sudah lama menjadi rahasia umum. Namun kini, situasinya makin gawat. Klub ini dikabarkan melanggar aturan FFP untuk kedua kalinya secara beruntun.
Pada 2024, Barcelona memang berhasil lolos dari hukuman berat dengan membayar denda 500 ribu euro (sekitar Rp9 miliar). Tapi musim ini, konsekuensinya jauh lebih besar — 15 juta euro (sekitar Rp289 miliar) harus dibayarkan agar mereka tidak langsung dicoret dari Liga Champions!
Namun Laporta tidak menutup mata. Ia mengaku, UEFA sempat berniat menjatuhkan larangan tampil di Eropa, sebelum akhirnya klub mengajukan pembelaan terakhir mereka.
Laporta Buka-Bukaan: “UEFA Sempat Ingin Mengusir Kami!”
Dalam Sidang Umum Barcelona, Laporta secara blak-blakan mengungkap perundingan panas dengan UEFA.
“UEFA ingin menghukum kami dengan larangan tampil di Liga Champions. Tapi kami membela diri dengan fakta bahwa Barcelona belum bisa melakukan penambahan modal. Akhirnya, denda 60 juta euro dipangkas jadi 15 juta,” ujar Laporta, dikutip dari Mundo Deportivo, Minggu (19/10/2025).
Sementara itu, laporan Football Espana menegaskan bahwa kasus FFP Barcelona belum sepenuhnya selesai. Jika UEFA memutuskan sanksi larangan tampil di Eropa, Barcelona bisa mengalami kerugian finansial ratusan juta euro dan kehilangan pamor sebagai klub elite dunia.
“Mereka juga sempat ingin memberi sanksi agar kami tidak bermain di Liga Champions musim depan,” tambah Laporta dengan nada waspada.
Meski Krisis, Performa di Lapangan Masih Gahar
Menariknya, badai finansial ini belum menggoyahkan performa Barcelona di lapangan. Di bawah tangan dingin Hansi Flick, musim lalu Blaugrana sukses menyapu bersih treble domestik — membuktikan bahwa semangat mereka belum padam.
Namun di balik itu, masalah administrasi membuat klub kerap kesulitan mendaftarkan pemain baru karena aturan ketat batas gaji LaLiga.
Keadaan ini memaksa Barcelona mencari cara-cara kreatif untuk menjaga kestabilan finansial tanpa kehilangan daya saing.
Dalam kesempatan yang sama, Laporta juga menyinggung proyek kontroversial LaLiga: pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, termasuk laga Barcelona melawan Villarreal yang dijadwalkan awal bulan ini.
“Kami tidak antusias pergi jauh, tapi langkah ini penting untuk menambah pendapatan dan memperluas citra kami di pasar global,” ucap Laporta.
Barcelona kini berambisi memaksimalkan eksposur internasional, termasuk dengan tampil di Piala Dunia Antarklub dan Supercopa di Arab Saudi, demi mendatangkan uang segar bagi kas klub.







