BANJARBARU, Kalimantanlive.com – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Selatan memperkenalkan metode baru dalam program rehabilitasi pesisir bernama hybrid engineering, yakni pendekatan yang memadukan rehabilitasi ekosistem alami dengan penggunaan struktur fisik ramah lingkungan.
Kepala DKP Kalsel, Rusdi Hartono, mengatakan inovasi ini menjadi bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim dan penanganan kawasan pesisir kritis di wilayah Kalsel.
BACA JUGA: Rusdi Hartono: Penanggulangan Illegal Fishing dan Restocking Jadi Prioritas DKP Kalsel 2024
“Program ini berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim di kawasan pesisir, khususnya di zona APL (Area Penggunaan Lain) yang tergolong kritis,” ujar Rusdi di Banjarbaru, Selasa (21/10/2025).
Menurutnya, DKP Kalsel selama ini fokus pada tiga ekosistem utama—mangrove, terumbu karang, dan lamun. Namun, rehabilitasi beberapa tahun terakhir lebih diarahkan pada ekosistem mangrove dan terumbu karang di wilayah yang rentan abrasi, banjir rob, dan kenaikan muka air laut.
“Metode lama murni berbasis tanah, tapi tidak semua kondisi cocok. Karena itu, kami kembangkan metode hybrid engineering, kombinasi struktur fisik sederhana dengan prinsip konservasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, metode ini lebih ramah lingkungan dibandingkan pendekatan konvensional seperti penggunaan pemecah ombak berbahan beton.







