SEMARANG, KALIMANTANLIVE.COM – Kasus penipuan dengan modus “jalur istimewa masuk Akpol” kembali mencoreng nama institusi kepolisian. Seorang warga Pekalongan, Dwi Purwanto (42), harus kehilangan Rp 2,65 miliar setelah ditipu empat orang—dua di antaranya oknum polisi aktif, sementara satu lainnya mengaku sebagai adik Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo!
Modus Jalur Khusus ‘Kuota Kapolri’
Kasus bermula pada Desember 2024, ketika Aipda F alias Rohim, anggota Polres Pekalongan, menawarkan “bantuan” kepada Dwi agar anaknya bisa lolos Akademi Kepolisian (Akpol) melalui jalur khusus yang disebutnya “Kuota Kapolri.”
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Langit Kalimantan Siaga: BMKG Peringatkan Hujan Petir Menggila di Kalsel, Warga Diminta Waspada!
# Baca Juga :TERHARU! Shin Tae-yong Ungkap Isi Hati Saat Namanya Diteriakkan Fans Indonesia, “Hati Saya Masih di Garuda”
# Baca Juga :CHELSEA MENGGILA! Dua Bintang Muda Eks Piala Dunia U17 Indonesia Bikin Ajax Tak Berdaya 5-1 di Stamford Bridge
# Baca Juga :GEGER DUNIA OLAHRAGA! Penolakan Atlet Israel Bikin IOC Bekukan Indonesia, Mimpi Olimpiade 2036 Resmi Kandas
“Beliau menawarkan untuk membantu mengurus anak saya supaya bisa masuk Akpol,” ujar Dwi di Semarang, Rabu (22/10/2025).
Namun, jalan pintas ini ternyata berujung petaka. Dwi diminta menyediakan Rp 3,5 miliar, dengan Rp 500 juta dibayar di awal sebagai tanda jadi dan sisanya dibayar setelah anaknya lolos seleksi pusat (Panpus).
Awalnya Dwi menolak, tapi setelah dibujuk oleh Rohim dan rekannya, Bripka AUK alias Alex, ia akhirnya tergoda. Uang ratusan juta pun berpindah tangan pada 21 Desember 2024, diikuti tambahan Rp 1,5 miliar sebulan kemudian untuk alasan “proses administrasi di Jakarta.”
Sosok Misterius Mengaku Adik Kapolri
Tak berhenti di situ, Dwi kemudian dipertemukan dengan pria bernama Agung, yang mengaku sebagai adik kandung Kapolri.
Dalam pertemuan berikutnya di Kediri, ia juga berkenalan dengan Joko, rekan Agung, yang disebut “bisa mengatur kelulusan dari dalam.”
“Kalau Agung ini katanya adiknya Pak Kapolri. Joko saya kurang tahu pekerjaannya, tapi dia mengaku bisa bantu lewat Mabes,” ungkap Dwi.
Untuk memperkuat bujukannya, Agung bahkan menyebut ada sosok “Babe”—seorang jenderal purnawirawan—yang bisa menjamin kuota kelulusan anak Dwi. Akibatnya, Dwi kembali mentransfer Rp 650 juta ke rekening Joko.
Namun, semua janji tinggal janji. Anak Dwi gagal di tahap pertama seleksi, dan para pelaku mulai saling lempar tanggung jawab.







