Pemprov Kalsel Mantapkan Rencana Pengembangan Transportasi Massal Terintegrasi

“Keputusan implementasi akan diambil setelah kajian selesai. Pelaksanaannya bisa saja dimulai pada 2027, 2028, atau 2029, tergantung kekuatan anggaran,” tambah Fitri.

Wilayah Banua Anam diproyeksikan sebagai poros utama transportasi produksi dan industri, menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi di hulu Kalimantan Selatan.

BACA JUGA: Pemprov Kalsel Perkuat Manajemen Koperasi Merah Putih di 2.013 Desa dan Kelurahan

Pengembangannya diarahkan untuk mendukung sektor hilirisasi dan industri, seperti pabrik karet di Hulu Sungai Tengah, Kawasan Industri dan KPI Seradang di Tabalong, serta Kawasan Industri Tapin (TIIPE) yang berfokus pada agroindustri.

Selain itu, Banua Anam juga disiapkan menjadi sentra produksi pangan terpadu dan modern yang berkelanjutan serta adaptif terhadap perubahan iklim, guna menjaga produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu, klaster Saijaan–Bersujud diarahkan pada penguatan jalur logistik dan konektivitas pesisir, serta mendukung sektor perikanan dan pariwisata bahari.

Fitri menegaskan, pembangunan transportasi massal terintegrasi tidak hanya menyangkut infrastruktur fisik, tetapi juga penciptaan ekosistem mobilitas yang efisien, inklusif, dan ramah lingkungan.