Target Corp Guncang Dunia Ritel! 1.800 Karyawan Korporat Dipecat Massal Demi Selamatkan Bisnis

Dunia ritel kembali diguncang kabar mengejutkan! Raksasa ritel asal Amerika Serikat, Target Corp, mengumumkan langkah besar dengan memangkas sekitar 1.800 karyawan korporat dalam upaya penyelamatan bisnis yang tengah terseok. Kebijakan ini menjadi PHK terbesar dalam hampir satu dekade terakhir bagi perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu jaringan ritel terkuat di AS.

Keputusan pahit ini disampaikan langsung oleh CEO baru Target, Michael Fiddelke, melalui sebuah memo internal pada Kamis (24/10). Ia menegaskan, langkah ini diperlukan demi menyederhanakan struktur organisasi dan mempercepat pengambilan keputusan di tengah kemerosotan penjualan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.

# Baca Juga :Wapres AS Vance: Shutdown Berkepanjangan Bisa Sebabkan PHK Massal

# Baca Juga :Geger! Starbucks Umumkan Penutupan Gerai & PHK Massal, 900 Pekerja Terancam

# Baca Juga :Khofifah Tegaskan Tidak Ada PHK Massal di Gudang Garam, Hanya Pensiun Dini

# Baca Juga :EKONOMI AS AMBRUK! Efek Tarif Trump Bikin Pabrik Mandek, PHK Massal Ancam Negeri Adidaya

“Terlalu banyak lapisan birokrasi membuat ide-ide brilian sulit diwujudkan. Ini langkah berat, tapi wajib dilakukan demi masa depan Target,” ujar Fiddelke dalam memo yang dikutip dari Reuters.

PHK massal ini akan memangkas sekitar 8 persen dari total tenaga kerja korporat, termasuk penutupan 800 posisi kosong yang sebelumnya tidak terisi. Para karyawan yang terdampak dijanjikan akan menerima gaji, tunjangan hingga awal Januari, serta paket pesangon sebagai kompensasi.

Langkah efisiensi ini terutama menyasar posisi manajerial dan administratif, sementara pekerja di toko ritel dan rantai pasokan disebut tidak akan terkena dampaknya.

Kinerja keuangan Target memang terus menurun. Harga saham perusahaan merosot hampir sepertiga sepanjang tahun ini, tertinggal dari pesaing besar seperti Walmart dan Costco. Selain itu, Target juga menghadapi tekanan publik usai mengendurkan komitmen terhadap kebijakan keberagaman dan inklusi (DEI) — yang sempat menjadi nilai jual penting di era modern.

Michael Fiddelke, yang telah berkarier selama dua dekade di Target dan baru ditunjuk sebagai CEO pada Agustus lalu, kini menghadapi ujian besar. Meski sejumlah investor menilai langkah restrukturisasi ini belum cukup, Fiddelke optimistis bahwa penataan ulang organisasi akan mengembalikan kecepatan dan inovasi perusahaan.