Boeing akhirnya mengakui kelemahan MCAS dan melakukan perombakan total:
MCAS kini tidak lagi bergantung pada satu sensor AoA,
Kekuatan sistem dalam menundukkan pesawat dibatasi,
Indikator AoA ditambahkan di kokpit, dan
Aktivasi MCAS tidak bisa berulang otomatis tanpa kendali pilot.
Sementara FAA memperketat proses sertifikasi pesawat, menambah pelatihan simulator wajib untuk semua pilot 737 MAX, serta melakukan audit internal terhadap izin produksi Boeing.
Pasca tragedi Lion Air dan Ethiopian Airlines (yang melibatkan pesawat serupa beberapa bulan kemudian), produksi 737 MAX dihentikan total.
Kerugian Boeing mencapai puluhan miliar dolar AS, sahamnya anjlok drastis, dan ribuan karyawan terdampak.
Pada akhir 2019, CEO Boeing Dennis Muilenburg dipaksa mundur, digantikan oleh David Calhoun, yang diberi mandat memulihkan reputasi perusahaan melalui transparansi dan budaya keselamatan baru.
Pelajaran untuk Dunia Penerbangan
Kecelakaan JT610 kini menjadi simbol bahwa teknologi canggih tanpa transparansi adalah bencana menunggu waktu.
Tragedi ini menegaskan bahwa keamanan penerbangan tidak hanya soal mesin dan sistem otomatis, tetapi juga soal:
pelatihan pilot yang memadai,
dokumentasi jujur dari pabrikan,
serta sistem desain yang memiliki redundansi — bukan hanya mengandalkan satu sensor tunggal.
Hari ini, 29 Oktober 2025, bangsa Indonesia kembali mengenang 189 jiwa yang hilang dalam penerbangan JT610.
Setiap tahun, keluarga korban berkumpul di tepi Laut Jawa, tempat puing-puing pesawat ditemukan, untuk menabur bunga dan mengingat satu hal:
“Kesalahan manusia bisa dimaafkan, tapi kelalaian sistem tidak boleh diulang.”
Tragedi Lion Air JT610 bukan sekadar kisah duka, melainkan peringatan global — bahwa dalam industri penerbangan, keselamatan manusia harus selalu di atas kepentingan bisnis.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







