7 Tahun Tragedi Lion Air JT610: Saat Dunia Menyaksikan “Borok” Boeing Terkuak ke Permukaan

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tujuh tahun sudah berlalu sejak pagi kelam 29 Oktober 2018, ketika pesawat Lion Air JT610 dengan Boeing 737 MAX 8 bernomor registrasi PK-LQP jatuh ke Laut Jawa tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Seluruh 189 penumpang dan awak tewas seketika, menjadikannya salah satu tragedi penerbangan paling memilukan dalam sejarah Indonesia.

Namun, tragedi itu bukan sekadar insiden teknis. Investigasi panjang yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membongkar fakta bahwa kecelakaan ini adalah hasil dari rangkaian kegagalan sistemik — dari cacat desain, lemahnya pengawasan, hingga kelalaian pabrikan raksasa Boeing.

# Baca Juga :GEMPAR! Mayoritas Perceraian Kini Diajukan Istri, Tanda Runtuhnya Fondasi Rumah Tangga Tradisional!

# Baca Juga :ALERT! Dua Bintang Arsenal Dipastikan Absen Lawan Brighton, Arteta Pusing Jelang Piala Liga Inggris Malam Ini

# Baca Juga :BREAKING DISCOVERY! Nyamuk dari Zaman Dinosaurus Ditemukan Hidup Abadi dalam Amber 99 Juta Tahun

# Baca Juga :88 Tas Mewah Sandra Dewi Siap Dilelang untuk Ganti Kerugian Negara Rp 420 Miliar!

Sistem Otomatis “Pembunuh”: MCAS

Dalam laporan akhir KNKT yang dirilis 25 Oktober 2019, disebutkan ada sembilan faktor penyebab yang saling berkaitan. Paling menonjol di antaranya adalah sistem otomatisasi baru bernama MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) — fitur yang seharusnya menjaga stabilitas pesawat, justru menjadi biang keladi bencana.

MCAS bergantung hanya pada satu sensor sudut angkat (Angle of Attack/AoA). Ketika sensor itu rusak, sistem salah membaca posisi pesawat dan memaksa hidung pesawat menukik tajam ke bawah — bahkan ketika pilot berusaha mengoreksi.

Pilot Lion Air JT610 berjuang keras melawan sistem otomatis yang tidak mereka kenali sepenuhnya. Boeing tidak menyebutkan keberadaan MCAS dalam manual pilot, membuat awak bekerja dalam “kegelapan informasi” terhadap fitur yang justru menentukan nasib mereka.

Beberapa penerbangan sebelum tragedi, pilot Lion Air sudah melaporkan anomali: data kecepatan udara tidak sinkron, kontrol pesawat sulit, hingga indikator AoA bermasalah.
Namun, laporan-laporan itu tak ditindaklanjuti secara menyeluruh, dan pesawat tetap dioperasikan.

Desain pesawat 737 MAX sendiri memindahkan posisi mesin ke depan sayap untuk alasan efisiensi bahan bakar — namun perubahan itu mengganggu aerodinamika alami pesawat. MCAS diciptakan untuk “menutupi” kelemahan itu, tapi dengan satu titik kegagalan fatal.

Sorotan Tajam ke Boeing dan FAA

Tragedi JT610 menjadi tamparan keras bagi Boeing dan otoritas penerbangan AS (FAA). Dunia mempertanyakan bagaimana pesawat modern bisa lolos sertifikasi dengan sistem seberbahaya itu tanpa pelatihan khusus bagi pilot.