GAZA BERDARAH LAGI! Serangan Udara Israel Hantam Rumah Sakit, 30 Warga Tewas di Tengah Gencatan Senjata

GAZA, KALIMANTANLIVE.COM — Dunia kembali diguncang kabar memilukan dari Jalur Gaza. Di tengah gencatan senjata yang masih berlaku, pesawat tempur Israel kembali melancarkan serangan udara brutal pada Selasa (28/10/2025), menewaskan sedikitnya 30 orang, termasuk warga sipil dan tenaga medis.

Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah militer Israel menuduh Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata, dengan menyerang pasukan IDF di Gaza.

# Baca Juga :Turki: Pencaplokan Tepi Barat dan Serangan ke Gaza Bukti Israel Tak Ingin Berdamai

# Baca Juga :PBB Desak Israel Patuhi Putusan Mahkamah Internasional soal Gaza

# Baca Juga :Rusia Desak Semua Pihak Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza

# Baca Juga :PBB Minta Israel Patuhi Putusan ICJ dan Izinkan Bantuan Masuk ke Gaza

“Serangan Hamas hari ini terhadap tentara IDF merupakan pelanggaran batas, dan kami akan menanggapinya dengan kekuatan penuh,” ujar Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, dalam pernyataannya.

Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi bahwa ia telah mengeluarkan perintah untuk melakukan “serangan dahsyat” sebagai respons atas dugaan pelanggaran itu.

Rumah Sakit Al-Shifa Jadi Sasaran: 5 Tewas di Halaman Medis

Menurut laporan Badan Pertahanan Sipil Gaza, sedikitnya tiga serangan udara mengguncang wilayah padat penduduk di Gaza.
Salah satu serangan mengenai halaman belakang Rumah Sakit Al-Shifa, fasilitas kesehatan terbesar dan terpenting di wilayah tersebut.

Akibatnya, lima orang tewas seketika saat kendaraan mereka terkena rudal. Puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Petugas medis menggambarkan situasi “seperti neraka”, dengan suara sirene dan jeritan korban memenuhi udara malam Gaza.

“Kami tengah mengevakuasi korban ketika bom berikutnya jatuh,” ungkap seorang relawan penyelamat kepada media lokal.

Ironisnya, serangan udara ini terjadi di tengah proses pertukaran jenazah sandera antara Hamas dan Israel — bagian penting dari kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi AS.

Hamas sebelumnya berencana menyerahkan jenazah tambahan warga Israel pada Selasa (28/10), namun menunda proses tersebut akibat gempuran baru dari Israel.
Kelompok itu menyebut pemboman telah menghambat pencarian dan pemulihan jenazah di kawasan yang sudah luluh lantak.

Dalam pernyataan di Telegram, sayap bersenjata Hamas mengklaim telah menemukan dua jenazah sandera Israel, namun belum menentukan waktu penyerahannya.

“Kami berkomitmen menyerahkan jenazah para tawanan Israel segera setelah ditemukan,” ujar Hazem Qassem, juru bicara Hamas, kepada AFP.

Ketegangan meningkat setelah pemerintah Israel menuduh Hamas memanipulasi proses penyerahan jenazah.
Menurut Shosh Bedrosian, juru bicara pemerintah Israel, sebagian jenazah yang diserahkan diduga merupakan sisa korban lama yang dikubur kembali untuk kepentingan propaganda.

“Hamas menggali lubang, menaruh sebagian jenazah lama di dalamnya, lalu menyerahkannya seolah-olah baru ditemukan,” ujar Bedrosian.