RIO, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia dikejutkan oleh tragedi mengerikan di Rio de Janeiro, Brasil. Operasi besar-besaran polisi untuk membasmi geng narkoba berujung menjadi pembantaian paling berdarah dalam sejarah Rio, menewaskan lebih dari 130 orang, termasuk warga sipil dan aparat.
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva disebut ngeri dan terkejut dengan besarnya jumlah korban jiwa dalam operasi itu. Ia bahkan tak tahu bahwa operasi sebesar itu dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah federal.
# Baca Juga :Puluhan Ribu Warga Brasil Demo Tolak RUU Amnesti dan Amendemen Konstitusi
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Cuaca Hari Ini Warga Kalsel dan Kalteng Harus Waspada: Hujan Petir & Angin Kencang Siap Menerjang!
# Baca Juga :KLASEMEN LIGA ITALIA TERKINI: Inter Salip Milan, Roma Panaskan Persaingan dengan Napoli!
# Baca Juga :Arsenal Menggila, Liverpool Dipermalukan: Drama Panas Hasil Lengkap Piala Liga Inggris 2025-2026!
“Presiden ngeri dengan banyaknya insiden fatal dan terkejut bahwa operasi sebesar ini dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah federal,” ujar Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski, dikutip dari AFP, Kamis (30/10/2025).
Operasi Paling Mematikan dalam Sejarah Rio
Kantor pembela umum negara bagian Rio mengonfirmasi setidaknya 132 orang tewas, sedangkan laporan polisi terakhir menyebut 119 korban, terdiri dari 115 anggota geng dan 4 petugas.
Pemerintah negara bagian memuji operasi itu sebagai “keberhasilan besar” melawan jaringan narkoterorisme Comando Vermelho (Komando Merah), kelompok bersenjata yang selama bertahun-tahun menguasai favela dan jalur narkoba di Rio.
Namun di balik klaim sukses itu, bayangan horor menyelimuti warga.
Usai baku tembak, warga Complexo da Penha menemukan puluhan jenazah berserakan di pinggiran hutan. Beberapa korban ditemukan terpenggal, terbakar, dan terikat, menimbulkan dugaan eksekusi massal.
“Negara datang bukan untuk operasi, tapi untuk pembantaian. Mereka datang untuk membunuh,”
kata seorang perempuan warga setempat dengan suara bergetar.
Favela Berubah Jadi Medan Perang
Ratusan petugas bersenjata berat mengepung wilayah padat penduduk itu. Helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone memenuhi langit Rio, sementara tembak-menembak brutal mengguncang perumahan warga.
Kelompok Comando Vermelho melawan sengit—mereka bahkan menggunakan drone untuk menjatuhkan bom ke arah polisi dan membakar puluhan bus untuk memblokir jalan raya utama.
Gubernur negara bagian Claudio Castro menyebut operasi itu “berhasil besar” melawan narkoterorisme dan menyatakan korban hanya dari pihak kepolisian. Tapi pernyataan itu ditentang keras oleh aktivis dan warga yang menyaksikan kekejaman di lapangan.









