KALIMANTANLIVE.COM – Dunia kembali diguncang tragedi kemanusiaan mengerikan dari El-Fasher, Darfur, Sudan. Rumah Sakit Saudi — satu-satunya fasilitas medis terakhir yang masih berfungsi di kota itu — dilaporkan diserbu dan dibantai setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota tersebut pada Minggu (26/10/2025).
#baca juga:KABAR GEMBIRA! 16 Kementerian Buka Lowongan CPNS untuk Lulusan SMA-SMK! Ini Daftarnya
#baca juga:Bek Jebolan Arsenal Ngaku Berdarah Malaysia, FAM Siap Gerak Cepat untuk Naturalisasi?
Laporan yang dihimpun Reuters dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi serangan itu, sementara komunikasi di dalam kota terputus total. Para dokter yang bertugas di RS tersebut hingga kini tak dapat dihubungi.
Gubernur Darfur, Minni Minawi, menyebut sedikitnya 460 orang tewas akibat serangan terhadap Rumah Sakit Saudi.
“Banyak korban berjatuhan di bangsal darurat dan area sekitarnya,” kata Minawi dalam pernyataan di platform X (Twitter).
Namun, jumlah pasti korban belum dapat diverifikasi karena akses ke wilayah itu masih tertutup.
Dua kelompok dokter Sudan dan jaringan aktivis lokal juga melaporkan ratusan orang terbunuh secara brutal, termasuk pasien, tenaga medis, dan warga sipil yang berlindung di dalam rumah sakit.
Dalam laporan WHO, empat dokter, seorang perawat, dan seorang apoteker diculik oleh kelompok bersenjata saat kejadian.
Sementara itu, RSF membantah tuduhan tersebut dan menuduh laporan pembantaian sebagai “disinformasi”.
El-Fasher Jatuh Setelah 18 Bulan Dikepung
Kota El-Fasher, yang sebelumnya menjadi benteng terakhir militer nasional Sudan (SAF) di Darfur, jatuh ke tangan RSF setelah dikepung selama 18 bulan.
Selama pengepungan, pasokan makanan dan obat-obatan terputus total, memaksa ratusan ribu warga hidup dalam kelaparan ekstrem.
Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), lebih dari 36.000 warga berhasil melarikan diri, sementara sekitar 200.000 lainnya masih terjebak di dalam kota tanpa akses bantuan kemanusiaan.







