Arman, petani dan nelayan setempat, mengaku kini banjir lebih sering terjadi dan hasil panen menurun hingga setengahnya sejak adanya instalasi pengolahan air.
“Air sungai kami sekarang tercemar. Air bersih hanya mengalir ke IKN,” keluhnya.
Meski kecewa, mereka tetap berharap IKN bisa membawa manfaat dan perhatian bagi budaya lokal.
“Kalau proyek ini berhenti, kami kehilangan segalanya. Tapi kalau jalan terus tanpa melibatkan kami, kami juga kehilangan,” ujar Arman pilu.
Harapan Masih Ada
Tak semua pandangan gelap. Clariza, seorang wisatawan dari Sulawesi, mengaku kagum melihat kemegahan IKN.
“Rasanya seperti Singapura. Bersih, modern, seperti sesuatu yang mustahil di tengah hutan,” katanya.
Ia berharap Nusantara bisa menggeser pusat ekonomi dan politik dari Pulau Jawa ke kawasan timur Indonesia.
“Tapi memang terasa aneh dan sepi, belum ada siapa-siapa di sini,” tambahnya.
Laporan The Guardian menjadi sorotan baru tentang masa depan proyek senilai ratusan triliun rupiah ini. Di satu sisi, IKN disebut simbol modernitas dan pemerataan pembangunan, tapi di sisi lain, bayangan “kota hantu” terus menghantui jika komitmen politik dan investasi tak dijaga konsisten.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







