Trump Tantang Dunia! Amerika Siap Hidupkan Lagi Uji Coba Nuklir Demi Kalahkan China dan Rusia

KALIMANTANLIVE.COM — Dunia kembali dikejutkan! Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengobarkan kembali bara perlombaan senjata nuklir setelah secara terbuka memerintahkan Pentagon untuk bersiap melakukan uji coba nuklir.
Langkah ini disebut sebagai upaya “menyamai kekuatan Rusia dan China”, dua negara yang belakangan agresif memamerkan kemampuan persenjataan mereka.

#baca juga:Mic Bocor Bikin Heboh! Terungkap 2 Proyek Besar Trump di Indonesia yang Jadi Sorotan Dunia

#baca juga:Trump: Israel Bisa Lanjutkan Serangan ke Gaza Jika Hamas Langgar Gencatan Senjata

#baca juga:Trump Ultimatum Hamas: “Lucuti Senjata atau Kami yang Akan Bertindak!”

#baca juga:Mic Masih Hidup! Prabowo Ketahuan Ngobrol dengan Donald Trump soal Anak dan Bisnis? Ini Penjelasan Menlu RI!

Pengumuman mengejutkan itu disampaikan Trump lewat platform media sosialnya, Truth Social, hanya beberapa jam sebelum bertemu Presiden China, Xi Jinping, di Korea Selatan. Pertemuan tersebut awalnya dijadwalkan untuk membahas gencatan senjata perang dagang — namun kini berubah menjadi babak baru ketegangan global.

“Karena negara lain kembali menguji coba, saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk memulai pengujian senjata nuklir kita dalam tingkat yang setara. Proses ini akan segera berjalan,” tulis Trump, dikutip dari The Guardian, Kamis (30/10/2025).

Dunia Bertanya-tanya: Uji Ledak atau Simulasi?

Ungkapan “atas dasar yang setara” dari Trump menimbulkan teka-teki besar. Apakah AS benar-benar akan kembali ke uji ledak bawah tanah seperti di era Perang Dingin, atau sekadar melakukan simulasi komputerisasi?

Tercatat, uji ledak nuklir terakhir AS terjadi pada 1992. Sejak itu, Washington hanya melakukan simulasi dan eksperimen subkritis. Di sisi lain, Korea Utara menjadi satu-satunya negara yang masih rutin melakukan uji nuklir nyata.

Pentagon sendiri belum memberikan komentar resmi atas pernyataan mengejutkan Trump tersebut.

Pemerintah China merespons hati-hati.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Beijing “berharap Amerika tetap menghormati komitmen nonproliferasi” dan menghindari tindakan yang bisa mengguncang stabilitas kawasan.

“China berpegang pada pembangunan damai dan kebijakan pertahanan yang bersifat defensif,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing.

Sementara itu, dari Moskwa, Presiden Vladimir Putin dengan percaya diri memamerkan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik, serta torpedo super Poseidon yang disebut bisa menciptakan gelombang radioaktif raksasa.

Trump menilai langkah Rusia itu “tidak pantas”, namun justru memicu semangat tandingan di Washington. Ia bahkan menuduh Moskwa mencoba mendominasi kekuatan strategis dunia.

Meski Trump mengklaim Amerika memiliki “arsenal nuklir terbanyak”, data ICAN (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons) menyebut Rusia memimpin dengan lebih dari 5.500 hulu ledak, sementara AS memiliki sekitar 5.044 unit.

Uji coba terakhir AS, “Divider”, berlangsung pada 23 September 1992 di Nevada. Namun fasilitas pengujian di sana masih aktif dan dapat digunakan kembali jika kebijakan berubah.

Kongres AS Langsung Panas

Anggota Kongres dari Nevada, Dina Titus, langsung menentang keras rencana Trump.

“Tidak bisa! Saya akan mengajukan RUU untuk menghentikan ini,” tulisnya di platform X.

Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terhadap instruksi sang mantan presiden.

Dalam sidang Senat, Wakil Laksamana Richard Correll, calon pemimpin komando nuklir AS, berusaha meredakan kepanikan.

“Saya tidak menafsirkan ucapan presiden sebagai rencana uji ledak nyata,” katanya.
Namun, ia mengakui ketegangan global sedang meningkat tajam.