PALANGKARAYA, Kalimantanlive.com – Harga cabai anjlok di pasaran diduga jadi penyebab petani lokal di Kalimantan Tengah merugi sehingga membuang hasil panennya.
Betapa tidak, selayakya hal tersebut bisa diantisipasi sejak awal oleh pemerintah terutama dalam hal memasarkan hasil panen dan mengatur jadwal penanaman cabai petani lokal.
Musim panen cabai yang terjadi bersamaan dalam beberapa waktu ini, menyebabkan produksi cabai tinggi , sedangkan daya beli konsumen rendah.
Hal tersebut menyebabkan, produksi pertani lokal jadi mubazir, karena jika dibiarkan dalam waktu lama akibat tidak laku dijual hasil panen cabai membusuk dan tidak lagi bisa dijual.
Inilah yang menyebabkan ada petani yang meluapkan kekeceawaanya dengan membuang hasil panen cabai miliknya, sebagai bentuk rasa kecewa dalam kondisi demikian.
Ini seperti yang terjadi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, ada petani yang merasa kecewa sehingga membuang cabai hasil panen miliknya, karena harga anjlok di pasaran.
Anggota DPRD Kalteng, Muhajirin, berkomentar terkait tindakan petani yang membuang hasil panen cabai miliknya sebagai bentuk rasa kekecewaannya tersebut.
“Diperlukan adanya solusi konkret bagi para petani agar tidak dirugikan.Ini tentunya harus ada campur tangan pemerintah untuk membantu mereka,” ujarnya, kemarin.
Kader Partai Demokrat Kalteng ini, meminta pemerintah turut membantu dalam hal pemasarkan hasil panen cabai para petani agar tidak mengalami kerugian,” ujarnya.
Lebih jauh dia menduga, anjloknya harga cabai saat dijual di pasaran tersebut kemungkinan akibat panen serentak di berbagai wilayah.
“Harga cabai itu akan anjlok salah satunya apabila, para petani cabai panen bersamaan, misalkan petani Kapuas panen bersamaan dengan petani Banjarmasin dan Palangkaraya.










