Pemerintah Klaim “Kemenangan”, Dunia Kecam “Pembantaian”
Gubernur Rio, Claudio Castro, menyebut operasi itu sebagai “hari bersejarah dalam perang melawan narkoterorisme.”
Namun Human Rights Watch (HRW) dan PBB menilai pendekatan itu justru melanggar standar hak asasi manusia internasional.
“Serangkaian operasi mematikan ini tidak menciptakan keamanan, hanya menambah ketakutan,” tegas Cesar Munoz, Direktur HRW Brasil.
“Brasil harus memutus siklus kebrutalan ekstrem ini,” tambah Marta Hurtado, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk HAM.
Pasca-operasi, kota Rio lumpuh. Bus dibakar, jalan diblokir, dan puluhan sekolah serta universitas menutup kegiatan belajar.
Warga menggambarkan suasana sebagai mencekam dan tak manusiawi.
Antara Perang Narkoba dan Pelanggaran HAM
Kritikus menyebut strategi Gubernur Castro mengulang kebijakan keras era Presiden Jair Bolsonaro, yang sering dikritik karena membenarkan kekerasan aparat.
Padahal sejak 2020, Mahkamah Agung Brasil telah memerintahkan agar kekerasan aparat dikurangi di wilayah padat penduduk.
Namun, operasi kali ini justru memperlihatkan kebalikan: militerisasi total dalam menghadapi kejahatan jalanan.
Fakta Mengerikan Operasi Rio 2025
Lokasi: Beberapa wilayah padat di Rio de Janeiro
Aparat terlibat: ±2.500 polisi dan tentara
Korban tewas: 119 orang
Tersangka ditangkap: 81 orang
Metode serangan: Drone bom, senjata otomatis, dan baku tembak darat
Target utama: Geng narkoba Red Command
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







