RIO DE JANEIRO, KALIMANTANLIVE.COM – Rio de Janeiro kembali berlumur darah! Sedikitnya 119 orang tewas dalam penggerebekan besar-besaran terhadap geng narkoba Comando Vermelho atau Red Command, jaringan kriminal paling berpengaruh di Brasil.
Operasi brutal yang melibatkan 2.500 aparat gabungan polisi dan tentara itu digelar pada Selasa (28/10/2025), dan disebut sebagai aksi paling mematikan dalam sejarah kepolisian Rio.
# Baca Juga :Ribuan Aparat Dikerahkan! 1.500 Personel Siaga Amankan Konser BLACKPINK di GBK Hari Ini
# Baca Juga :DAFTAR Harga BBM Terbaru Pertamina Naik di Awal November 2025, Kalsel Pertalite: Rp 10.000/Liter
# Baca Juga :“Profesor Palsu dari AS” Tipu Investor Kripto Miliaran! Jaringan Indonesia–Malaysia–Kamboja Dibongkar Polisi
# Baca Juga :GALGAH” Resmi Masuk KBBI! Viral dari TikTok Jadi Lawan Kata “Haus”, Ini Sosok Penciptanya!
Operasi Penuh Ledakan dan Darah
Bentrok sengit pecah di berbagai titik ibu kota Rio de Janeiro. Drone milik geng Red Command bahkan meluncurkan bom rakitan ke arah pasukan keamanan.
Keesokan harinya, 40 jasad ditemukan berserakan di jalanan, menciptakan pemandangan mengerikan yang viral di media sosial.
Hasil akhir operasi: 81 tersangka ditangkap, 119 tewas, dan puluhan lainnya luka-luka.
Pemerintah setempat menyebutnya sebagai “pukulan terbesar terhadap Red Command”, sementara organisasi HAM menilai itu tak ubahnya pembantaian massal.
“Kami melihat orang-orang dieksekusi—ditembak di kepala, diikat, ditusuk. Ini bukan operasi, ini pembantaian,” ungkap aktivis lokal Raull Santiago kepada ABC News.
Siapa Sebenarnya Geng “Red Command”?
Geng Comando Vermelho atau Red Command dikenal sebagai kelompok kriminal tertua dan paling berkuasa di Brasil.
Menurut laporan InSight Crime dan Time Magazine, kelompok ini lahir di penjara Candido Mendes, Pulau Ilha Grande, pada 1970-an.
Awalnya dibentuk oleh para narapidana untuk saling melindungi dari kekerasan penjara, kelompok ini kemudian berkembang menjadi sindikat narkotika internasional pada dekade 1980-an.
Red Command tak hanya menguasai perdagangan kokain, tetapi juga pemerasan, penyelundupan senjata, hingga bisnis “alternatif” seperti gas, air, dan transportasi lokal.
Dalam riset terbaru oleh Julia Quirino, kandidat doktor di Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ), Red Command bahkan kini memiliki aplikasi berbagi tumpangan (rideshare) sendiri.
“Ini menunjukkan bagaimana kelompok bersenjata ilegal memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas kendali dan diversifikasi pendapatan,” ungkap Quirino.
Ironisnya, penelitian itu juga mengungkap fakta mengejutkan:
hanya 11 persen pendapatan Red Command berasal dari narkoba, sementara sisanya didapat dari pemerasan pedagang kecil dan layanan dasar bagi warga miskin.
Menguasai Rio Hingga Amazon
Sejak 2022, Red Command memperluas pengaruhnya ke seluruh penjuru Rio, bahkan hingga wilayah Amazon.
Pada akhir 2024, lembaga riset keamanan mencatat kelompok ini menguasai lebih dari separuh wilayah Rio de Janeiro, menggusur milisi pro-negara yang sebelumnya berkuasa di favela-favela.
Mereka dikenal menggunakan strategi “Robin Hood”—memberi kebutuhan dasar warga miskin sambil menekan mereka untuk tunduk.
Meski dijuluki “pelindung rakyat kecil”, kenyataannya Red Command adalah organisasi militer bawah tanah dengan jaringan logistik, intelijen, dan senjata modern.









